Senin, 20 April 2009

Saptuari, Owner Kedai Digital

Bermula dari sebuah kios sederhana 2x7 meter yanga didapat dari menggadaikan rumah dan motor, kini Kedai Digital – usaha yang bergewrak dalam bisnis merchandise – telah memiliki 20 cabang di 14 kota. Bisnis tersebut didirikan sejak 28 Maret 2005, di sebuah kios kecil di daerah Demangan Yogyakarta. Kedai ini memiliki konsep foto Digital yang kemudian dijadikan merchandise pribadi.

Menurut lelaki yang akrab dipanggil Mas Saptu ini, bisnis yang kini ia geluti bermula dari pengamatannya terhadap orang-orang yang berebut barang-barang sederhana yang bergambar artis. “Saya terus berfikir… kenapa sih benda yang sederhana itu menjadi unik ketika ada embel-embel brand tertentu di dalamnya”, ungkapnya. Dari situlah kemudian ia menemukan konsep bisnis “merchandise pribadi”, atau selanjutnya ia beri branding “merchandise untuk semua!”. Menurutnya, dengan begitu semua orang berhak punya merchandise sendiri tanpa terlebih dahulu menjadi seorang artis terkenal.

Jika kebanyakan orang memulai usaha dari nol, lain halnya dengan Saptuari. Ia justru memulai usaha dari minus. Sebab, modal 28 juta yang ia dapatkan dari hasil hutang di bank, ternyata hanya cukup untuk sewa tempat ukuran 2x7 meter bekas kandang becak, yang dindingnya triplek, atapnya seng bocor, dan tidak ada WCnya. Tapi meski begitu, bagi Saptu The Show must go on. Dengan bermodal rasa optimis dan keyakinan bahwa usaha ini akan berjalan, ia tetap tekun menjalaninya. “Tuhan Maha Kaya, masak sih kita yang usaha yang berdarah-darah gak dikasih rejeki”, paparnya. Jika dulu awalnya hanya beromset 9 juta-an per bulan, tapi kini bisa mencapai 200-300 juta/bulan. Itu pun hanya berasal dari 9 cabang yang ada di Yogyakarta saja. “Tuhan memang benar-benar Kaya, kami hanya menjalankan titipan-Nya saja untuk dikelola sebaik-baiknya”, ujarnnya merendah.

Memilih nama harus unik

Di awal-awal bisnis ini berlangsung tidak lantas memakai branding Kedai Digital, tetapi sempat beberapa kali berganti nama. Sebelum memperoleh nama Kedai Digital, sempat didesain dengan nama Rumah Poster, Poster factory, Pojok Digital, Warung Digital, dan lain-lain. Sampai akhirnya menemukan nama KEDAI DIGITAL. Mengenai alasan pemilihan nama, Saptu memiliki alasan tersendiri. “Memilih nama usaha memang kalo bisa yang unik, gak norak, dan gak gampang ditiru. Kalo sudah nama usaha kita daftarkan di Dirjen HAKI, biar jadi merk resmi, sehingga tidakj sembarangan bisa ditiru orang,” jelasnya.

Ketika ditanya mengapa memilih bisnis merchandise, Saptu mengatakan bahwa bisnis ini memiliki keterkaitan erat dengan bisnis lain. “Semua perusahaan butuh branding untuk mempromosikan produknya,” jelasnya. Apalagi dalam perkembangan dunia usaha di era global saat ini. Selain itu, lanjutnya, KedaiDigital mempunyai segmen pasar yang unik, yaitu anak muda.

Dalam strategi pengembangan bisnis, Kedai Digital mengembangkan sistem Kemitraan dengan sistem BO (Business Opportunity). Sistem ini berupa peluang bisnis yang bisa dijalankan dan diduplikasi di banyak tempat. ”Kami buktikan sistem bisnis ini sukses di Yogyakarta, harusnya kalo diduplikasi ditempat lain dengan sistem yang sama maka suksesnya juga sama”. Saptu juga menerangkan bagi siapa saja ingin menerapkan sistem ini. ”Bagi yang berminat memiliki cabang kedai digital file kerjasama bisa di download di www.kedaidigital.com.” Dengan Sistem BO biaya yang dibayarkan kepada kami diawal hanya 33 juta, sedangkan modal keseluruhan dengan tempat, komputer dll sekitar 80 juta. ”Target Balik modal sekitar 1,5 - 2 tahun,” tambahnya.

Berani mengambil resiko

Saat diminta jawabannya mengenai sifat yangh harus dimiliki dari seorang pengusaha, ia hanya menekankan bahwa kita tidak boleh takut akan resiko. ”Berani mengambil resiko,, tidak takut gagal, selau berfikir positif, dan selalu memiliki ide-ide baru.” selain itu, lanjutnya, seorang pengusaha tidak boleh mudah menyerah. Baginya, sebagai seorang pengusaha harus yakin bahwa pilihan hidupnya bukan hanya sekedar mencari materi saja, tapi benar-benar bagian dari ibadah. Apalagi jika kita bisa menjadi jalan rejeki untuk orang lain. ”InsyaAllah kalo kita niatnya sudah lurus, semua akan dimudahkan oleh-Nya.”

Terakhir, Saptu juga memberikan pesan kepada para pengusaha agar bersemangat dalam usahanya masing-masing. ”Mulailah Action dan jangan kebanyakan mikir. Jalankan usaha kita. Yakinlah kalau Tuhan Maha Kaya yang menjamin rejeki kita.
”Semut saja setiap hari dapat makan, Gajah yang tidak sekolah bisa gemuk. Allah sudah memberi hati dan pikiran pada kita, maka dari itu kita harus memaksimalkan kemampuan untuk mencari rizki-Nya. Jangan Takut gagal, karena jika kita takut gagal berarti kita juga takut sukses, Jangan pernah malu berwirausaha.”

Maju terus wirausaha Indonesia!!!!

Saptuari S.
Direktur Kedai Digital

Sumber : Produkmuslim.com

Read More......

Minggu, 19 April 2009

Iwan Sunito, Menaklukkan Bisnis Properti Negeri Kanguru

Arek Suroboyo ini sudah menetap selama 20 tahun di Australia. Bersama dua mitranya, ia merentas sukses di bisnis properti. Bagaimana Iwan Sunito mencapainya?
Australia, tak hanya dikenal sebagai negara yang memiliki panorama indah. Peluang bisnis pun, ternyata terbuka lebar bagi siapa saja yang mau mencoba. Salah satunya yang berhasil mengembangkan bisnis di negeri ini adalah Iwan Sunito, pria asal Surabaya. Ceritanya, 20 tahun lalu, lelaki kelahiran Juli 1966 ini datang ke sana untuk menimba ilmu di Jurusan Arsitektur Universitas New South Wales, Australia. Kemudian, ia melanjutkan S-2-nya di kampus yang sama dengan mengambil spesialisasi Manajemen Konstruksi.

Setelah lulus pada 1992, ia pun mencoba peruntungan di Cox Richardson Architects, perusahaan yang menggarap proyek Olyimpic 2000 di Australia. Selama dua tahun di perusahaan ini, ia menyadari, jika terus bekerja di perusahaan orang, akan sulit mencapai target hidup seperti yang diharapkan.

Maka, pada 1994, keputusan penting dibuat; merintis usaha sendiri sesuai dengan keahlian. Segmen yang dibidik adalah rumah-rumah mewah. "Jiwa saya bukan mengerjakan rumah-rumah murah," kata peraih penghargaan The Best Residential Designer ketika menyelesaikan S-1-nya ini. Bukannya berkmasud jumawa, hanya saja, dijelaskan Iwan, proyek rumah murah di Australia sudah terlampau banyak dan persaingannya juga ketat.

Rumah pertama yang dirancang Iwan adalah rumah mewah di daerah Rose Bay. Nilai total proyek ini Aus$ 500 ribu. "Lumayanlah, baru pertama kali langsung dapat proyek besar," katanya sembari tersenyum. Setelah itu, bisnisnya berkembang baik. Proyek perkantoran dan unit perumahan mulai digarap. Sebenarnya, "Bisnis ini bisa berkembang lebih besar dengan jumlah arsitek sekitar 100-200 orang," ujarnya optimistis. Namun, ia merasa, bisnis arsitek cuma bagus untuk sekadar memiliki cash flow.

Iwan pun memutar otak, mencari peluang yang memungkinkannya melakukan gebrakan. Setelah melihat-lihat, bisnis property development pun dilirik. Di bisnis ini, ia mempunyai bekal karena tesis yang dikerjakannya juga tentang hal yang sama. "Jadi, arahnya saya belokkan ke property development," katanya.

Kendati memiliki pengetahuan dan pengalaman membangun rumah, bukan berarti sukses langsung digenggam. Awalnya, proyek perumahan kecil berisi 5-6 unit rumah yang diincar. Akan tetapi, ketika sudah menemukan lokasi yang cocok, Iwan tak jadi membelinya. Alasannya, "Harganya terlalu mahal. Saya tidak berani membeli."

Tahun 1996, ia menemukan tanah yang cocok untuk membangun 55 unit rumah di daerah Bondi Junction dengan harga Aus$ 28 juta. "Ini nilai proyek pertama saya," ujar Iwan. Karena nilai investasinya besar, ia pun mengajak dua teman baiknya mengerjakan proyek ini bersama-sama. "Sejak itu, kami merasa cocok. Kemudian, saya memutuskan merger dengan mereka yang memang sejak awal sudah bergerak di bidang property investment & development," lanjutnya. Karena itu, pada tahun yang sama dibentuklah Crown International Group, yang merupakan hasil merger beberapa perusahaan.

Iwan berkisah, bukan perjuangan mudah menjadi pengusaha di negeri orang. Ia merasa harus banyak belajar. Untungnya, sistem pemerintahan Australia memudahkannya membangun bisnis. "Di Australia, proses izin sangat transparan. Kalau toh tidak diizinkan, di sana ada pengadilan sistem yang bisa memutuskan. Jadi, tidak ada sistem yang dimanipulasi," paparnya.

Ini berbeda dengan di Indonesia, yang ia dengar sering dijumpai hal-hal ganjil. Sekadar mengambil contoh, soal sertifikat ganda, di Indonesia sudah umum terjadi. Sementara di Australia, itu merupakan tindak kejahatan yang bisa diajukan secara hukum.

Diakui Iwan, potensi pasar di Indonesia untuk bisnis properti masih sangat besar. Namun, sejauh ini, soal transparansi masih sering dipertanyakan. "Ketika teman-teman di Australia mengundang Robby Djohan atau Emil Salim untuk diskusi, selalu saja pertanyaannya menyangkut legal transparancy. Mereka butuh jaminan. Ada beberapa hal di Indonesia yang membuat kami tidak nyaman berbisnis, " Iwan mengungkapkan.

Dalam pandangan Iwan, orang yang sudah terbiasa dalam iklim bisnis seperti di Australia, akan mendapat hambatan besar jika masuk ke pasar di Indonesia. "Tidak sebanding antara keuntungan dan risikonya," ujarnya berseloroh. Sejauh ini, ia belum terpanggil untuk berbisnis di negeri sendiri. "Saya harus berpikir banyak. Paling tidak, saya harus mengerti sistem di Indonesia," tuturnya serius. Terlebih, banyak hal yang membuatnya bingung. Umpamanya, dalam hal jual-beli tanah. Di Australia, disebutkan Iwan, proses pembelian tanah hanya membutuhkan waktu tiga hari. Sementara di Indonesia, ia menduga, mungkin bisa memakan waktu sampai berbulan-bulan.

Kendati demikian, bukan lantaran itu ia takut memulai bisnis di Indonesia. Alasan yang sebenarnya, "Saya sudah lama di Australia dan tahu benar peta geografi negeri ini, serta peluang yang ada di sana."

Sekarang, Iwan masih fokus menggarap proyek di Sydney yang populasinya hanya sekitar 20 juta orang. "Buying power penduduk Sydney besar. Tinggal bagaimana kita menggarapnya," Iwan menandaskan. Selama tinggal di Australia, ia mengamati, investasi properti di Sydney jauh lebih bagus daripada dalam mata uang asing. Sekadar contoh, pada 1985 harga rumah di Sydney sekitar Rp 96 juta. Sekarang, bisa mencapai Rp 4,8 miliar. Bayangkan, berapa keuntungannya?

Ke depan, Sydney diyakini Iwan masih sangat prospektif. Di daerah ini, banyak orang yang sukses dalam hidupnya dan mempunyai daya beli yang tinggi. Bahasa apa pun ada di wilayah ini. Bahkan, "Sekarang mulai bertebaran perusahaan multinasional yang mendirikan headquarter di daerah ini," katanya. Agaknya, Sydney menjadi pilihan karena tempatnya indah dan top executive-nya lebih senang tinggal di daerah ini. "Banyak orang yang rebutan ingin masuk ke sini," ungkapnya.

Selain Sydney, daerah lain yang pertumbuhan bisnis propertinya bagus, menurut Iwan, adalah Melbourne dan Queensland. "Kalau di Sydney dan Melbourne sudah sejak dulu. Kini Queensland juga banyak diincar karena lokasinya dekat pantai. Harga rumah di Queensland juga masih murah," papar Iwan seraya menjabarkan, beberapa tahun lalu, 70% penduduk Australia lebih senang tinggal di daerah rural. Namun saat ini, mulai terjadi pergeseran. "Kalangan muda menilai, untuk memulai hidup di Sydney terlalu mahal," ujar Iwan.

Kendati begitu, Sydney tetap dipilih untuk proyek propertinya. Diakui Iwan, di kota itu, sebetulnya agak susah mencari tanah. Namun, tak ada kata gentar yang hinggap. "Kalau mendapat tanah yang harganya cocok, akan baik untuk bisnis," katanya. Lagi pula, "Saya sudah lama tinggal di sini sehingga tahu pasarnya," ia menukas. Sejauh ini, ia mengaku belum ada rencana mengembangkan bisnisnya di dua daerah potensial yang lain.

Iwan mengungkapkan, ada dua hal yang membuatnya bisa bertahan di negeri orang dan meraih sukses. Pertama, mengerti sistem yang berlaku dan berhubungan baik dengan orang-orang yang berada di dalam sistem itu. Kedua, harus tahu positioning produk sendiri dan menciptakan keunikan. Misalnya, ia mengamati, di Sydney banyak orang tua yang sudah mencapai usia pensiun ingin pindah dari rumah mereka yang besar (senilai Aus$ 1-2 juta) ke yang ukurannya lebih kecil. Di pasar, rumah yang ditawarkan ukurannya terlalu kecil. Untuk menjawab kebutuhan itu, ia pun mengembangkan rumah mewah di lokasi yang transportasinya bagus dan ada fasilitas convenience store-nya. Ukurannya, diklopkan dengan permintaan pasar.

Hal yang sama juga terjadi ketika mengerjakan proyek di Bondi. Di tempat ini, yang digarap adalah perumahan eksklusif. "Kami tahu daerah ini dikelilingi orang yang tinggal di rumah senilai Aus$ 4 juta," kata Iwan. Maka, dibangunlah proyek yang unik dan berbeda. Biasanya, orang membuat satu unit rumah dengan dua kamar tidur luasnya 80 m2. Namun, ia membuatnya menjadi 95 m2. Atau, yang biasanya tiga kamar tidur seluas 95 m2, diperluas menjadi 135 m2. "Tidak ada kompetitornya. Positioning kami adalah terhadap market tertentu, daerah tertentu dan menjangkau kebutuhan di daerah tersebut," tutur Iwan, yang dengan strategi itu pula merasa lebih mudah memasarkan produknya.

Di samping itu, budaya setempat juga diperhatikan Iwan. "Saya tahu kalau orang Asia senang tinggal di kota yang ramai, dan ada shopping center-nya. Sementara orang bule profesional, lebih suka di daerah yang trendi. Dan orang yang sudah tua, tidak akan pindah ke daerah lain yang belum pernah dia tinggali," Iwan menuturkan. Budaya-budaya ini yang dulunya tidak ia mengerti. Ia sempat heran melihat orang yang berani membayar mahal, padahal daerahnya bukan di daerah strategis. Ternyata, alasannya sederhana saja. "Mereka sudah lama tinggal di situ dan anak mereka juga tumbuh di lingkungan itu."

Dilihat dari skala bisnisnya, Crown termasuk perusahaan kelas menengah. "Nilai proyek kami sekitar Aus$ 80-200 juta per proyek," ungkap Iwan. Di kelas ini, pemainnya relatif banyak, yakni 20-30 pemain. Sementara di kelas atas, hanya ada 5-6 pemain dan biasanya perusahaan publik. "Sydney itu besar sekali. Kami tidak bisa meng-handle sendirian," paparnya. Jika tender proyek berlangsung, biasanya yang berkompetisi hanya 3-4 perusahaan. Ia sendiri sering memperoleh proyek tanpa melalui tender. "Kebanyakan private deal," ia menambahkan. Sebagai contoh, bila Iwan melirik sebidang tanah, ia akan menghitung dengan kacamata bisnis, lalu mengajukan penawaran langsung ke pemiliknya.

Di proyek yang diberi nama Genesis -- proyek apartemen dan ritel berkualitas tinggi di daerah Epping -- Iwan tidak sendirian, melainkan join ventura dengan pengembang properti lain, Lyon Group. Nilai proyeknya Aus$ 80 juta. Saat ini, proses konstruksi Genesis telah dimulai. Proyek ini akan selesai pada 2006, bersamaan dengan rencana Pemerintah New South Wales menyelesaikan railway line dari Chatswood ke Epping. Pada saat peresmian nanti, PM Australia, John Howard berkenan hadir untuk meresmikan proyek tersebut.

Di atas lahan seluas 4000 m2 itu, akan dibangun 98 apartemen beragam tipe -- tipe studio, apartemen dua kamar dan tiga kamar. Untuk tipe studio, harganya berkisar Aus$ 340-545 ribu untuk dua kamar tidur, dan Aus$ 650 ribu untuk tiga kamar tidur. Sementara itu, untuk jenis sub-penthouse harganya Aus$ 995 ribu dan luxury penthouse ditawarkan mulai dari Aus$ 1,135 juta.

Selama tinggal di Sydney, Iwan mengaku banyak belajar tentang pola pikir bangsa lain. Berdasarkan pengamatannya, yang membuat orang Indonesia tak berhasil membangun bisnis di Australia bukan karena tak mampu. Melainkan, kesalahan dalam membaca pola pikir masyarakat di sana. "Mereka berharap kesuksesannya di Jakarta bisa langsung dibawa ke Australia," ujarnya berargumen. Padahal, tidak semudah itu menerapkannya. "Untuk masuk ke sini, orang Indonesia harus bisa menghapuskan halangan-halangan terlebih dulu," katanya. Apa yang dimaksud dengan halangan-halangan?

"Bahasa dan budaya," jawab Iwan. "Halangan bahasa adalah penyebab utama masuk ke networking mainstream," katanya. Bila networking-nya terbatas, informasinya pun jadi terbatas. Di samping itu, halangan bahasa juga harus bisa dihilangkan. "Dan, jangan terburu-buru. Kita harus tahu benar budaya di sini," tambahnya.

Ia mengambil contoh temannya, seorang pengusaha asal Indonesia yang ingin mengembangkan perumahan di Melbourne. Total nilai proyeknya sekitar Aus$ 120 juta. Lokasinya dekat kasino, sedangkan di seberangnya tempat para pelajar. Ketika melihat rancangannya yang mahal, ia sudah menebak bahwa itu tidak akan berhasil. Kalau di Sydney, perumahan di dekat kasino akan laku keras. "Tapi tidak di Melbourne," ia menandaskan. "Ia tidak sadar bahwa orang lokal tidak mau dan tidak suka tinggal di tempat seperti itu," tambahnya.

Jelas, tak mudah mengembangkan bisnis di negeri orang. Selain harus memahami budaya setempat, bahasanya pun harus dikuasai dengan baik dan benar. Dan yang tak kalah penting, tentu saja, harus kenal banyak orang. Sebab, dengan jaringan yang ada di mana-mana itulah, Iwan Sunito bisa meraih impiannya di Australia. Itulah kiat si arek Suroboyo ini merentas suksesnya di Negeri Kanguru. Ada yang punya nyali menyusul jejaknya?

sumber : www.swa.co.id
Read More......

Sabtu, 18 April 2009

Ali Hufroni > Uang, Bukan Modal Utama

Bagi kebanyakan orang, uang adalah modal utama dalam mendirikan usaha atau mempertahankan sebuah usaha. Hal ini tidak bagi profil edisi kali ini. Menurutnya, uang bukan modal utama dalam usaha. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa uang adalah nomor kesekian dari suatu usaha.

Ia adalah Ali Hufroni. Pria asli Boyolali ini, memiliki usaha dalam bidang property, interior, dan kontraktor. Menurut bidang usahanya, bisa dipastikan membutuhkan modal yang besar. Tetapi, menurut Ali, panggilan akrab Ali Hufroni, tidak demikian. Ia mengatakan bahwa uang bukan modal utamanya dalam membangun usaha, bahkan uang merupakan modal yang kesekian dibanding modal-modal yang lain.
Sebelum terjun didunia property, pria alumni SMA 6 ini, memulai usaha dibidang perbukuan, tepatnya membuat buku. Usaha ini tidak berlangsung lama, karena merasa kurang sesuai dengan ilmu yang ia dapatkan di meja kuliah “teknik sipil” UMS (Universitas Muhammadiyah Surakarta).
Kemudian Ali banting setir ke dunia property. Kebetulan ketika itu, iklim bisnis property sedang bergairah dan naik. Terbukti, perusahan yang didirikan Ali langsung mendapat proyek. Setelah proyek pertama selesai, ternyata order tidak kunjung datang lagi.”Proyek sepi”, kata Pria pemiliki tubuh tinggi besar ini.
Akhirnya diputuskan untuk bergabung dengan salah satu temannya yang lebih dulu menekuni dunia property. “Ketika itu, niat saya untuk bekerja dan belajar dengan teman saya ini”, kata Ali.
Sambil berjalannya waktu, Ali kembali mandiri. Perusahaan yang dahulunya sempat berhenti karena sepi order, lambat-laun mulai dilirik orang. Order-demi order datang silih berganti.
“Saya mandiri lagi. Mulai dari nol”, kata pria yang hobby renang ini. Hingga saat ini, Ali berhasil menyelesaikan 5 perumahan yang tersebar di kota Solo, yaitu Quality Regency, Griya Arrahmah, Quality Garden dan Green Garden.
Selain itu, Ali terus mengembangkan usaha dibidang yang terkait dengan property. “Ada interior, kontraktor, developer”, jelasnya. Dalam membangun usaha, Ali mengaku tidak ada rahasia-rahasiaan. Semua blak-blakan. Menurutnya, uang bukan modal utama dalam usahanya.
“Modal pertama dan utama kami adalah kepercayaan, benar kata para pakar, bahwa uang bukan modal utama dalam membangun usaha, jelas Ali pada hadila. “Ketika itu, kami akan mendirikan Quality Regency, kami harus membeli tanah seharga hampir 1 milyar. Padahal saat itu, saya tidak memiliki uang sebesar penawaran. Setelah lobby dilakukan, pemilik tanah bersedia jika diberi uang muka sebesar dua juta rupiah saja. bisa dibayangkan, harga semahal itu –hampir 1 M- bisa dibeli dengan uang muka hanya 2 juta saja. Selang beberapa waktu, pemilik tanah datang menagih kekurangan uang tanahnya. Padahal, baru 2 rumah laku terjual. Kami lobby lagi untuk mengundur jatuh tempo dan diijinkan”, tambah Ali pada hadila.
“Itu semua tidak terjadi kalau tidak karena kepercayaan. Jelas, saya meyakini bahwa uang memang bukan modal utama dalam mendirikan usaha, tetapi kepercayaanlah yang utama dan pertama”, kata pria pemilik PT. Portalindo ini.
Lebih lanjut Ali menjelaskan bahwa setalah kepercayaan, modal selanjutnya adalah servise atau layanan. Seorang pengusaha, walaupun memiliki produk yang bagus, tanpa dibarengi layanan yang memuaskan, bisa dipastikan ditinggalkan pembeli.
“Servise harus memuaskan. Dalam dunia property, komplain pelanggan, selalu kami layani dengan sebaik-baiknya. Pagi telpon, siang hari, tukang harus datang membenahi, bila ada yang rusak, bocor atau yang lain. Ini adalah kunci kepuasan pelanggan” tandas Ali pada hadila. “Selanjutnya, kita harus professional. Kualitas dijaga sebaik-baiknya”, tambah Ali.
“Resep selanjutnya adalah jangan lupa bershodaqoh”, kenang Ali. Menurut Ali, shodaqoh, infaq dan zakat bisa membuka pintu rejeki. Maka, jika Anda ingin membangun usaha, jangan tunda-tunda untuk berinfaq, insyaAllah, kemudahan-kemudahan akan sangat terasa.
Sumber : Produkmuslim.com

Read More......

Minggu, 12 April 2009

Hendi Setiono, Presiden Direktur Kebab Turki Baba Rafi

Menjadi Milyarder Di Usia Muda

Satu lagi anak muda Surabaya menorehkan prestasi besar. Dia adalah Hendy Setiono, presiden direktur Kebab Turki Baba Rafi. Prestasinya tidak hanya diakui di dalam negeri, tapi juga di mancanegara. Mengapa?
Wajah dan penampilannya masih layaknya anak muda. Siang itu, dia berkemeja batik cokelat dipadu celana hitam. Cukup sederhana. Tak tecermin tampang seorang bos dari perusahaan beromzet lebih dari Rp 1 miliar per bulan.
Itulah penampilan sehari-hari Hendy Setiono, Presdir Kebab Turki Baba Rafi Surabaya. Oleh majalah Tempo edisi akhir 2006, dia dinobatkan sebagai salah seorang di antara sepuluh tokoh pilihan yang dinilai mengubah Indonesia. Tentu, sebuah pengakuan yang membanggakan bagi Hendy. Apalagi, bisnis yang dia geluti tergolong bisnis yang tak akrab di telinga. Usianya pun masih 23 tahun! Wow, masih sangat muda untuk seorang bos yang memiliki 100 outlet di 16 kota di Indonesia.

Dengan ramah, pria kelahiran Surabaya, 30 Maret 1983, tersebut mempersilakan Jawa Pos masuk ke kantornya di Ruko Manyar Garden Regency, kawasan Nginden Semolo. “Biasanya saya masuk kantor agak siang. Tapi, karena hari ini ada janji dengan Anda, saya agak meruput datang ke kantor,” ujar Hendy mengawali perbincangan.
Ketika itu, jarum jam sudah menunjuk pukul 11.00. Bagi Hendy, pukul 11.00 masih terbilang pagi karena biasanya dirinya baru masuk kantor lebih dari pukul 12.00.
Dia lalu menceritakan awal mula bisnis kebab yang digelutinya tersebut. Kebab adalah makanan khas Timur Tengah (Timteng) yang dibuat dari daging sapi panggang, diracik dengan sayuran segar, dan dibumbui mayonaise, lalu digulung dengan tortila. Sebenarnya, kebab banyak beredar di Qatar dan negara Timteng lainnya.
Namun, kata Hendy, kebab paling enak adalah dari Istambul, Turki. Karena itu, dia menggunakan “trade mark” Turki untuk menarik calon pelanggan.
Hendy mengisahkan, pada Mei 2003, dirinya mengunjungi ayahnya yang bertugas di perusahaan minyak di Qatar. Selama di negeri yang baru sukses melaksanakan Asian Games itu, dia banyak menemui kedai kebab yang dijubeli warga setempat. Lantaran penasaran, Hendy yang mengaku hobi makan itu lantas mencoba makanan yang lezat bila dimakan dalam kondisi masih panas tersebut. “Ternyata, rasanya sangat enak. Saya tak menduga rasanya seperti itu,” ungkap sulung dua bersaudara pasangan Ir H Bambang Sudiono dan Endah Setijowati tersebut.
Tak hanya perutnya kenyang, saat itu di benak Hendy langsung terbersit pikiran untuk membuka usaha kebab di Indonesia. Alasannya, selain belum banyak usaha semacam itu, di Indonesia terdapat warga keturunan Timteng yang menyebar di berbagai kota.
“Orang Indonesia juga banyak yang naik haji atau umrah. Biasanya, mereka pernah merasakan kebab di Makkah atau Madinah. Nah, mereka bisa bernostalgia makan kebab cukup di outlet saya,” jelasnya.
“Makanya, selama di Qatar, saya juga memanfaatkan waktu untuk berburu resep kebab. Saya mencarinya di kedai kebab yang paling ramai pengunjungnya,” jelas Hendy yang beristri Nilamsari, 23, dan kini sudah dikaruniai dua anak, Rafi Darmawan, 3, dan Reva Audrey Zahifa, 2, tersebut.
Begitu tiba kembali di Surabaya, dia langsung menyusun strategi bisnis. Yang pertama dilakukan adalah mencari partner. Dia tidak ingin usahanya asal-asalan. Dia kemudian bertemu Hasan Baraja, kawan bisnisnya yang kebetulan juga senang kuliner. Awalnya, mereka sengaja melakukan trial and error untuk menjajaki peluang bisnis serta pangsa pasarnya.
“Ternyata, resep kebab dari Qatar yang rasa kapulaga dan cengkehnya cukup kuat tidak begitu disukai konsumen. Ukurannya pun terlalu besar. Makanya, kami memodifikasi rasa dan ukuran yang pas supaya lebih familier dengan orang Indonesia,” katanya.
September 2003, gerobak jualan kebab pertamanya mulai beroperasi. Tepatnya di salah satu pojok Jalan Nginden Semolo, berdekatan dengan area kampus dan tempat tinggalnya.
Mengapa gerobak? Hendy mempunyai alasan. “Membuat gerobak lebih murah daripada membuat kedai permanen. Tidak perlu banyak modal. Gerobak pun fleksibel, bisa dipindah-pindah,” ujarnya.
Soal nama kedainya Baba Rafi, dia mengaku terinspirasi nama anak pertamanya, Rafi Darmawan. “Diberi nama Kebab Pak Hendy kok tidak komersial,” katanya lalu tergelak.
Saat itulah terlintas di benaknya nama si sulung, Rafi. “Kalau dipikir-pikir, pakai nama Baba Rafi, lucu juga rasanya. Baba kan berarti bapak, jadi Baba Rafi berarti bapaknya Rafi.”
Mengawali sebuah bisnis memang tidak mudah. Apalagi untuk meraih sukses seperti sekarang. Suka duka pun dirasakan calon bapak tiga anak itu. “Misalnya, uang berjualan dibawa lari karyawan. Banyak karyawan yang keluar masuk. Baru beberapa minggu bekerja sudah minta keluar,” ungkapnya.
Bahkan, pernah suatu hari, karena tak mempunyai karyawan, Hendy dan istri berjualan. Hari itu kebetulan hujan. Tak banyak orang membeli kebab. Makanya, pemasukan pun sedikit. “Uang hasil berjualan hari itu digunakan membeli makan di warung seafood saja tak cukup. Wah, itu pengalaman pahit yang selalu kami kenang,” ujarnya.
Tak ingin setengah-setengah dalam menjalankan bisnis, lulusan SMA Negeri 5 Surabaya tersebut akhirnya memutuskan berhenti dari bangku kuliah pada tahun kedua. “Saya OD alias out duluan. Tapi, saya tidak menyesal meninggalkan bangku kuliah untuk membangun usaha,” tegas Hendy yang pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Teknik Informatika ITS tersebut.
Keputusan dia untuk meninggalkan bangku kuliah guna menekuni bisnis kebab tersebut sempat ditentang orang tuanya. Mereka ingin Hendy menjadi orang kantoran seperti ayahnya. Karena itu, ketika dia meminta bantuan modal, orang tuanya menganggap bisnis yang akan dilakoni tersebut adalah proyek iseng. “Mereka pikir saya tidak serius pada bisnis itu. Dalam hati, saya ingin membuktikan kepada bapak dan ibu bahwa kelak saya pasti berhasil,” jelasnya.
Yang luar biasa, kesuksesan bisnis Hendy tak perlu waktu lama. Hanya dalam 3-4 tahun, dia berhasil mengembangkan sayap di mana-mana. Bahkan, hingga pengujung 2006, pengusaha muda tersebut mencatat telah memiliki 100 outlet Kebab Turki Baba Rafi yang tersebar di 16 kota di Indonesia. Tidak hanya di Jawa, tapi juga di Bali, Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan.
Ke depan, Hendy berencana mengembangkan usahanya itu ke luar negeri. Dua negara yang diincar adalah Malaysia dan Thailand. “TV BBC London dan majalah Business Week International pernah meliput usaha saya tersebut. Setelah itu, ada orang yang menawari saya membuka outlet di Trinidad & Tobago serta Kamboja,” jelasnya.
Sukses bisnis kebab waralaba Hendy itu juga menghasilkan berbagai award, baik dari dalam maupun luar negeri. Di antaranya, ISMBEA (Indonesian Small Medium Business Entrepreneur Award) 2006 yang diberikan menteri koperasi dan UKM. Hendy juga ditahbiskan sebagai ASIA’s Best Entrepreneur Under 25 oleh majalah Business Week International 2006. Untuk meraih award tersebut, dia bersaing dengan 20 kandidat pengusaha lain dari berbagai negara di Asia.
Pria kalem itu juga mendapatkan penghargaan Citra Pengusaha Berprestasi Indonesia Abad Ke-21 yang dianugerahkan Profesi Indonesia. Kemudian, penghargaan Enterprise 50 dari majalah SWA untuk 50 perusahaan yang berkembang dalam setahun terakhir. Serta, di pengujung 2006, majalah Tempo menobatkan Hendy menjadi salah seorang di antara sepuluh tokoh pilihan yang mengubah Indonesia.
Apa yang akan dilakukan Hendy selain mengembangkan usahanya ke mancanegara? Tampaknya, dia ingin seperti raja komputer, Bill Gates. “Saya belajar dari para pengusaha sukses. Salah satunya, Bill Gates. Dia bisa mendirikan kerajaan Microsoft, meski tidak tamat sekolah. Jadi, intinya, untuk menjadi orang sukses, tidak harus memiliki gelar akademis dan indeks prestasi (IP) tinggi,” tegasnya lalu tertawa.
Sumber : Jawa Pos


Read More......

Sabtu, 11 April 2009

Ciputra - Maestro Real Estate Indonesia

Ciputra. Dialah pelopor bisnis properti modern di Indonesia dan pendiri sekaligus ketua umum pertama REI (perhimpunan perusahaan real estate Indonsia), sehingga dijuluki Bapak Real estate Indonesia. Ciputra juga orang Indonesia pertama yang dipercaya menjadi World President FIaBCI, organisasi pengusaha realestast internasional. Bagi para konsumen properti, nama Ciputra telah menjadi brand yang menjanjikan kualitas produk sekaligus prospek investasi yang menguntungkan. Di kalangan pelaku bisnis properti, Ciputra identik dengan raksasa bisnis yang sering menjadi rujukan sekaligus pesaing.
Karya-karya besar Ciputra begitu beragam, karena hampir semua subsektor properti dijamahnya. Ia kini mengendalikan 5 kelompok usaha Jaya, Metropolitan, Pondok Indah, Bumi Serpong Damai, dan Ciputra Development yang masing-masing memiliki bisnis inti di sektor properti. Proyek kota barunya kini berjumlah 11 buah tersebar di Jabotabek, Surabaya, dan di Vietnam dengan luas lahan mencakup 20.000 hektar lebih. Ke-11 kota baru itu adalah Bumi Serpong Damai, Pantai Indah Kapuk, Puri Jaya, Citraraya Kota Nuansa Seni, Kota Taman Bintaro Jaya, Pondok Indah, Citra Indah, Kota Taman Metropolitan, CitraRaya Surabaya, Kota Baru Sidoarjo, dan Citra Westlake City di Hanoi, Vietnam.

Proyek-proyek properti komersialnya, juga sangat berkelas dan menjadi trend setter di bidangnya. Lebih dari itu, proyek-proye
knya juga menjadi magnit bagi pertumbuhan wilayah di sekitarnya. Perjalanan bisnis Ciputra dirintis sejak masih menjadi mahasiswa arsitektur Institut Teknologi Bandung. Bersama Ismail Sofyan dan Budi Brasali, teman kuliahnya, sekitar tahun 1957 Ciputra mendirikan PT Daya Cipta. Biro arsitek milik ketiga mahasiswa tersebut, sudah memperoleh kontrak pekerjaan lumayan untuk masa itu, dibandingkan perusahaan sejenis lainnya. Proyek yang mereka tangani antara lain gedung bertingkat sebuah bank di Banda Aceh. Tahun 1960 Ciputra lulus dari ITB.

Ke Jakarta…Kita harus ke Jakart
a, sebab di sana banyak pekerjaan, ujarnya kepada Islamil Sofyan dan Budi Brasali. Keputusan ini menjadi tonggak sejarah yang menentukan jalan hidup Ciputra dan kedua rekannya itu. Dengan bendera PT Perentjaja Djaja IPD, proyek bergengsi yang ditembak Ciputra adalah pembangunan pusat berbelanjaan di kawasan senen. Dengan berbagai cara, Ciputra adalah berusaha menemui Gubernur Jakarta ketika itu, Dr. R. Soemarno, untuk menawarkan proposalnya. Gayung bersambut. Pertemuan dengan Soemarno kemudian ditindak lanjuti dengan mendirikan PT Pembangunan Jaya, setelah terlebih dahulu dirapatkan dengan Presiden Soekarno.

Setelah pusat perbelanjaan Senen, proyek monumental Ciputra di Jaya selanjutnya adalah Taman Impian Jaya Ancol dan Bintaro Jay. Melalui perusahaan yang 40% sahamnya dimiliki Pemda DKI inilah Ciputra menunjukkan kelasnya sebagai entrepreuneur sekaligus profesional yang handal dalam menghimpun sumber daya yang ada menjadi kekuatan bisnis raksasa. Grup Jaya yang didirikan tahun 1961 dengan modal Rp. 10 juta, kini memiliki total aset sekitar Rp. 5 trilyun. Dengan didukung kemampuan lobinya, Ciputra secara bertahap juga mengembangkan jaringan perusahaannya di luar Jaya, yakni Grup Metropolitan, Grup Pondok Indah, Grup Bumi Serpong Damai, dan yang terakhir adalah Grup Ciputra.

Jumlah seluruh anak usaha dari Kelima grup itu tentu di atas seratus, karena anak usaha Grup Jaya saja 47 dan anak usaha Grup Metropolitan mencapai 54. Mengenai hal ini, secara berkelakar Ciputra mengatakan: Kalau anak kita sepuluh, kita masih bisa mengingat namanya masing-masing. Tapi kalau lebih dari itu, bahkan jumlahnya pun susah diingat lagi. Fasilitas merupakan unsur ketiga dari 10 faktor yang menentukan kepuasan pelanggan. Konsumen harus dipuaskan dengan pengadaan fasilitas umum dan fasilitas sosial selengkapnya. Tapi fasilitas itu tidak harus dibangun sekaligus pada tahap awal pengembangan. Jika fasilitas selengkapnya langsung dibangun, harga jual akan langsung tinggi. Ini tidak akan memberikan keuntungan kepada para pembeli pertama, selain juga merupakan resiko besar bagi pengembang. Ciputra memiliki saham di lima kelompok usaha (Grup Jaya, Grup Metropolitan, Grup Pondoh Indah, Grup Bumi Serpong Damai, dan Grup Ciputra). Dari Kelima kelompok usaha itu, Ciputra tidak menutupi bahwa sebenarnya ia meletakkan loyalitasnya yang pertama kepada Jaya. Pertama, karena ia hampir identik dengan Jaya. Dari sinilah jaringan bisnis propertinya dimulai. Sejak perusahaan itu dibentuk tahun 1961, Ciputra duduk dalam jajaran direksinya selama 35 tahun: 3 tahun pertama sebagai direktur dan 32 tahun sebagai direktur utama, hingga ia mengundurkan diri pada tahun 1996 lalu dan menjadi komisaris aktif. Kedua, adalah kenyataan bahwa setelah Pemda DKI, Ciputra adalah pemegang saham terbesar di Jaya. PT Metropolitan Development adalah perusahaannya yang ia bentuk tahun 1970 bersama Ismail Sofyan, Budi Brasali, dan beberapa mitra lainnya. Kelompok usaha Ciputra ketiga adalah Grup Pondok Indah (PT Metropolitan Kencana) yang merupakan usaha patungan antara PT Metropolitan Development dan PT Waringin Kencana milik Sudwikatmono dan Sudono Salim. Grup ini antara lain mengembangkan Perumahan Pondok Indah dan Pantai Indah Kapuk. Kelompok usaha yang keempat adalah PT Bumi Serpong Damai, yang didirikan awal tahun 1980-an. Perusahaan ini merupakan konsorsium 10 pengusaha terkemuka – antara lain Sudono Salim, Eka Tjipta Widjaya, Sudwikatmono, Ciputra dan Grup Jaya – yang mengembangkan proyek Kota Mandiri Bumi Serpong Damai seluas 6.000 hektar, proyek jalan tol BSD – Bintaro Pondok Indah, dan lapangan golf Damai Indah Golf. Grup Ciputra adalah kelompok usahanya yang Kelima. Grup usaha ini berawal dari PT Citra Habitat Indonesia, yang pada awal tahun 1990 diakui sisi seluruh sahamnya dan namanya diubah menjadi Ciputra Development (CD). Ciputra menjadi dirutnya dan keenam jajaran direksinya diisi oleh anak dan menantu Ciputra. Pertumbuhan Ciputra Development belakangan terasa menonjol dibandingkan keempat kelompok usaha Ciputra lainnya. Dengan usia paling muda, CD justru yang pertama go public di pasar modal pada Maret 1994. Baru beberapa bulan kemudian Jaya Real properti menyusul. Total aktiva CD pada Desember 1996 lalu berkisar Rp. 2,85 triliun, dengan laba pada tahun yang sama mencapai Rp. 131,44 miliar. CD kini memiliki 4 proyek skala luas: Perumahan Citra 455 Ha, Citraraya Kota Nuansa Seni di Tangerang seluas 1.000 Ha, Citraraya Surabaya 1.000 Ha, dan Citra Indah Jonggol. 1.000 Ha. Belum lagi proyek-proyek hotel dan mal yang dikembangkannya, seperti Hotel dan Mal Ciputra, serta super blok seluas 14,5 hektar di Kuningan Jakarta. Grup Ciputra juga mengembangkan Citra Westlake City seluas 400 hektar di Ho Chi Minh City, Vietnam. Pembangunannya diproyeksikan selama 30 tahun dengan total investasi US$2,5 miliar. Selain itu, CD juga menerjuni bisnis keuangan melalui Bank Ciputra, dan bisnis broker melalui waralaba Century 21. Sejak beberapa tahun lalu, Ciputra menyatakan Kelima grup usahanya – terutama untuk proyek-proyek propertinya – ke dalam sebuah aliansi pemasaran. Aliansi itu semula diberi nama Sang Pelopor, tapi kini telah diubah menjadi si Pengembang. “Nama Sang Pelopor terkesan arogan dan berorientasi kepada kepentingan sendiri,” ujar Ciputra tentang perubahan nama itu.
Read More......

Minggu, 05 April 2009

Purdi E Chandra

Purdi E Chandra lahir di Lampung 9 September 1959. Secara “tak resmi” Purdi sudah mulai berbisnis sejak ia masih duduk di bangku SMP di Lampung, yakni ketika dirinya beternak ayam dan bebek, dan kemudian menjual telurnya di pasar.

Bisnis “resminya” sendiri dimulai pada 10 Maret 1982, yakni ketika ia bersama teman-temannya mendirikan Lembaga Bimbingan Test Primagama (kemudian menjadi bimbingan belajar). Waktu mendirikan bisnisnya tersebut Purdi masih tercatat sebagai mahasiswa di 4 fakultas dari 2 Perguruan Tinggi Negeri di Yogyakarta. Namun karena merasa “tidak mendapat apa-apa” ia nekad meninggalkan dunia pendidikan untuk menggeluti dunia bisnis.
Dengan “jatuh bangun” Purdi menjalankan Primagama. Dari semula hanya 1 outlet dengan hanya 2 murid, Primagama sedikit demi sedikit berkembang. Kini murid Primagama sudah menjadi lebih dari 100 ribu orang per-tahun, dengan ratusan outlet di ratusan kota di Indonesia. Karena perkembangan itu Primagama ahirnya dikukuhkan sebagai Bimbingan Belajar Terbesar di Indonesia oleh MURI (Museum Rekor Indonesia).

Mengenai bisnisnya, Purdi mengaku banyak belajar dari ibunya. Sementara untuk masalah kepemimpinan dan organisasi, sang ayahlah yang lebih banyak memberi bimbingan dan arahan. Bekal dari kedua orang tua Purdi tersebut semakin lengkap dengan dukungan penuh sang Istri Triningsih Kusuma Astuti dan kedua putranya Fesha maupun Zidan. Pada awal-awal berdirinya Primagama, Purdi selalu ditemani sang istri untuk berkeliling kota di seluruh Indonesia membuka cabang-cabang Primagama. Dan atas bantuan istrinya pula usaha tersebut makin berkembang.
Kini Primagama sudah menjadi Holding Company yang membawahi lebih dari 20 anak perusahaan yang bergerak di berbagai bidang seperti: Pendidikan Formal, Pendidikan Non-Formal, Telekomunikasi, Biro Perjalanan, Rumah Makan, Supermarket, Asuransi, Meubelair, Lapangan Golf dan lain sebagainya.
Walaupun kesibukannya sebagai entrepreneur sangat tinggi, namun jiwa organisatoris Purdi tetap disalurkan di berbagai organisasi. Tercatat Purdi pernah menjabat sebagai Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) cabang Yogyakarta dan pengurus Kamar Dagang dan Industri Daerah (Kadinda) DIY. Selain itu Purdi pernah juga tercatat sebagai anggota MPR RI Utusan Daerah DIY. (sumber : www.purdiechandra.com)

Wawancara dengan Majalah BERWIRAUSAHA (22-09-2000)

Untuk jadi seorang entrepreneur sejati, tidak perlu IP tinggi, ijazah, apalagi modal uang. “Saat yang tepat itu justru saat kita tidak punya apa-apa. Pakai ilmu street smart saja,” ungkap Purdi E Chandra, Dirut Yayasan Primagama.
Menurutnya, kemampuan otak kanan yang kreatif dan inovatif saja sudah memadai. Banyak orang ragu berbisnis cuma gara-gara terlalu pintar. Sebaliknya, orang yang oleh guru-guru formal dianggap bodoh karena nilainya jelek, justru melejit jadi wirausahawan sukses.
“Masalahnya jika orang terlalu tahu risikonya, terlalu banyak berhitung, dia malah tidak akan berani buka usaha,” tambah ‘konglomerat bimbingan tes’ itu. Purdi yang lahir di Lampung 9 September 1959 memang jadi model wirausaha jalanan, plus modal nekad. la tinggalkan kuliahnya di empat fakultas di UGM dan IKIP Yogyakarta. Lalu dengan modal Rp.300 ribu ia dirikan lembaga bimbingan tes Primagama 10 Maret 1982 di Yogyakarta. Sebuah peluang bisnis potensial yang kala itu tidak banyak dilirik orang. la sukses membuat Primagama beromset hampir 70 milyar per tahun, dengan 200 outlet di lebih dari 106 kota. la dirikan IMKI, Restoran Sari Reja, Promarket, AMIKOM, Entrepreneur University, dan terakhir Sekolah Tinggi Psikologi di Yogyakarta.

Grup Primagama pun merambah bidang radio,penerbitan, jasa wisata, ritel, dll. Semua diawalkan dari keberanian mengambil risiko. Kini Purdi lebih banyak lagi ‘berdakwah’ tentang entrepreneurship. Bagi Purdi, entrepreneur sukses pastilah bisa menciptakan banyak lapangan kerja. Namun, itu saja tidak cukup berarti bagi bangsa ini. “Saya memimpikan bisa melahirkan banyak lagi pengusaha-pengusaha. Dengan demikian, makin banyak pula lapangan kerja diciptakan. Itulah Mega Entrepreneur,” ungkap Purdi kepada Edy Zaqeus dan David S. Simatupang dari Majalah BERWIRAUSAHA.
Berikut petikan wawancara yang berlangsung di kantor cabang Primagama Jakarta.

Bagaimana semangat wirausaha masyarakat kita?

Mungkin begini. Salahnya pendidikan kita itu, kebanyakan orang lulus sarjana baru cari kerja. Jadi pengusaha itu mungkin malah orang-orang yang KEPEPET. Yang tidak diterima di mana-mana, baru dia sadar dan bikin usaha sendiri. Mestinya, kesadaran seperti ini bisa untuk orang-orang yang tidak kepepet. Alasannya, kalau mau usaha harus ada modal, punya ketrampilan. Padahal tidak harus begitu. Saat yang tepat itu justru saat kita tidak punya apa-apa. Ibaratnya kalau kita punya ijazah pun, tidak usah dipikirin. Saya dulu tak tergantung dengan selembar kertas itu. Sekarang mau dijaminkan di bank juga tidak bisa. Hanya buat senang-senang saja kalau sudah sarjana.
Memang saya lihat pendidikan kita itu dari otak kiri saja. Padahal kalau kita garap yang kanan, porsinya banyak, maka otomatis otak kirinya naik. Tapi kalau kita banyakin kiri, kanan ndak ikut naik. Kanan itu adalah praktek. Saya bilang street smart.
Cerdas di lapangan, di jalanan. Orang yang akademik, sekolahnya pintar, IP atau nilai tinggi, dia tidak berani menentang teori. Jadi robotlah. Kalau di situ jadi topeng monyet. Dia tidak berani membuat kreasi sendiri. Padahal hidup dia itu bukan di masa lalu. Hidup dia itu kan di masa datang, dan itu serba berubah cepat. Tidak ada yang sama dengan teori yang dia pelajari. Teori itu kan hasil temuan. Kenapa kita tidak bisa menemukan sendiri? Saya punya contoh, manajemen di Primagama, yang tidak ada di teori. Kalau pun ada di teori pasti disalah-salahkan.

Apa itu?

Di Primagama, suami-istri bekerja dalam satu kantor itu malah kita anjurkan. Di lain tempat dan di teori itu ndak boleh! Tapi saya praktekkan, ternyata jalan, bagus. Saya melihat, mereka masing-masing bisa saling mengontrol. Maka, menantang teori itu yang utama. Saya malah bisa menaikkan omset Primagama 60%.

Contohnya lagi, iklan Primagama yang pakai aktor Rano Karno. Menurut orang kampus, dan pernah dibahas di sana, itu ndak bener! Menurut teori ndak benar. Tapi nyatanya, bagus hasilnya? Saya dulu pernah pakai Sarlito (pakar psikologi dan pendidikan:rec), malah ndak ada hasilnya, walau dia doktor atau apa. Jadi street smart itu…

Apa artinya street smart?

Cerdas di jalanan. Ada academic smart atau school smart. Tapi street smart itu cerdas dengan praktek. Jadi begini, kalau kita punya pengetahuan dengan benar, pengetahuan itu kan akademik. Kita tidak strong, gugur! Kita tidak akan bisa. Kita tidak akan bisa benar. Waktu SD itu ada bacaan-bacaan begini; “Ibu pergi ke pasar membeli sayur.” Kok tidak yang menjual sayur saja?

Kok kata-katanya selalu membeli, bukan menjual? Teryata setelah saya urut-urut, yang nulis itu guru. Coba kalau isinya diubah menjadi menjual, itu akan lain.

Kenapa tertarik menonjolkan sisi menjualnya?

Kalau saya bertransaksi, itu nilai tambah. Dalam transaksi, duit paling banyak itu kan pengusahanya? Dan paling banyak milik pengusaha. Coba kalau misalnya yang satu membeli saja. Akan terbatas transaksinya. Sehingga kalau memang harus banyak pengusahanya, ya untuk menjual.

Setuju dengan pemikiran Kiyosaki “If you want to be rich and happy, don’t go to school” ?

Kalau saya if you want to be rich and happy, ya…. Kalau ingin kaya, ngapain sekolah? Kalau di sekolah tidak akan happy dan kaya. Pendidikan kita tidak bikin happy, malah bikin stres anak. Porsi mainnya kurang. Sejak Taman Kanak-kanak sudah dipaksa main otak kiri. Mungkin itu karena dari mentrinya sampai orang-orang tuanya itu otak kiri semua, kan? Dikatakan figur yang bagus itu yang profesor, yang doktor. Padahal kalau kita pilah, yang pintar sekolah memang jadi dosen, jadi dokter. Yang sedang-sedang saja jadi manajer. Tapi yang bodo-bodo sekolahnya malah jadi pengusaha.

Penelitian di Harvard begitu. Penyikapan guru terhadap anak yang bodo kok divonis tidak punya masa depan? Mungkin dia berani, kreatif, bisa menemukan apa yang tidak ditemukan oleh anak-anak pintar.
Nah, pendidikan kita itu semua mau dijadikan ilmuwan. Seolah ngejar otak kiri saja, ngejar school smart saja.

Apa yang harus dilakukan untuk membongkar sistem seperti itu?

Memang berat karena dari dulu juga begitu. Maka harus lewat luar, kegiatan-kegiatan ekstra. Maka saya usulkan pendidikan kita dibuat dua sistem; sistem ijazah dan sistem tanpa ijazah. Kalau sekolah tanpa ijazah, orang akan cenderung cari ketrampilan dari praktek yang kelihatan. Yang pakai ijazah untuk yang mau jadi dosen, jadi dokter, jadi ilmuwan.

Kalau pelajaran kimia yang pakai ijazah, ya ilmuwan itulah. Kalau kimia yang tidak pakai ijazah, pilihannya ya bikin deterjen, bikin sirup, bikin apa saja yang ada manfaatnya. Kalau semua harus belajar kimia, padahal kita tidak tertarik, berarti dipaksa dan tidak happy jadi nya.Kalau di tataran konseptual, apa yang mesti dilakukan?

Saya kira Dikbud itu merasa bahwa yang menentukan masa depan Indonesia itu dia. Bikin kurikulum, walaupun sumbernya dari masyarakat, tapi sering terlambat. Kurikulum tahun lalu baru dipakai sekarang. Lebih cepat di luar, kan? Maka kalau saya, pendidikan itu tidak usah diatur. Perguruan Tinggi siapa pun boleh bikin. Dan itu masyarakat yang menilai. Hukum pasar! Titel MBA atau apa dilarang, kenapa? Alamiah aja. Nanti kalau kebanjiran itu orang ndak mau pakai, kan ndak masalah? Kalau banyak manajer belajar ilmu untuk mendapatkan MBA, itu kan bagus? Dalam pendidikan itu sebenarnya mereka dagang.
Kalau model-model pendidikan itu masyarakat yang mengembangkan, mungkin baru bagus. Karena pas dengan zaman itu. Misalnya Mc Donald mau bikin Universitas Mc Donald, kenapa tidak?

Bagaimana dengan Entrepreneur University yang Anda dirikan?

Sebagai entrepreneur, saya punya visi Mega Entrepreneur. Artinya bagaimana seorang pengusaha bisa menciptakan pengusaha lainnya. Kalau pengusaha bisa menciptakan lapangan kerja, itu sudah biasa. Yang saya kejar adalah bagaimana saya bisa menciptakan banyak pengusaha. Dulu visi saya memang menciptakan lapangan kerja sebanyak-banyaknya. Kalau seperti itu kan lama. Mungkin hanya ribuan lapangan kerja. Tapi kalau bisa menciptakan banyak pengusaha, lapangan kerja yang tercipta lebih banyak lagi.
Karyawan saya pun saya usahakan bisa jadi pengusaha. Kayak manajer-manajer saya, semua sudah punya usaha di luar. Saya ditentang oleh Renald Kasali. Katanya menurut teori itu tidak bisa. ‘Orang kerja kok diajak merangkap jadi pengusaha, itu ndak bisa!’. Saya praktekkan ternyata bisa. Manajer saya punya perusahaan mebel.
Menurut Kiyosaki, di sini dia sebagai employee, di luar dia sebagai business owner karena yang mengelola orang lain. Ada manajer saya yang buka bengkel motor. Sopir saya punya kenteng mobil. Sopir saya yang lain punya bisnis jual bell handphone.
Karyawan-karyawan itu mau jadi manajer semua ? ndak mungkin kan…
Harapan paling besar saya, ya mereka jadi pengusaha.

Sejak kapan Entrepreneur University berjalan?

Entrepreneur University (EU) berjalan belum lama. Sebelumnya kita sudah sering adakan pelatihan di mana-mana. Tapi cuma beberapa hari, lalu selesai tidak ada follow up. Sekarang lebih jelas, kita ada follow up. Misalnya kita adakan tiga bulan, setelah itu ada klub entrepreneur. Yang itu bisa dilakukan lewat internet, pertemuan-pertemuan, dan juga konsultasi seperti tadi. Di EU diutamakan yang indeks prestasinya (IP) rendah. Memang pernah ada yang protes, orang mau masuk tapi IP-nya tinggi, dia jadi minder. Tapi memang saya lebih mudah mengajar orang yang tidak pintar. Kalau otak kiri sudah kuat, susah berubahnya.
Misalnya dia kuliah di akuntansi, yang feasible tidak feasible, udah, ndak berani-berani dia. Usaha itu bukan perhitungan sebelumnya. Hitungan yang terjadi, itulah usaha. Banyak yang terjadi kita tidak tahu dan tidak kita pikirkan sebelumnya. Saya di Primagama dulu kalau dipikir tidak rasional. Modal saya cuma Rp.300 ribu saja. Sekarang asetnya sudah hampir Rp.100 milyar, kan? Rasionalnya di mana?

Tadi seorang direksi bank yang ingin membuat usaha. Seperti dia, dihitung-hitung terus, selalu tidak positif. Akhirnya tidak berani buka usaha. Saya bilang, “Jangan dihitung terus!” Usaha itu dibuka, baru dihitung. Ini street smart. Kalau dihitung baru dibuka, ndak akan buka-buka usaha. Makanya, yang membuat orang takut itu bukan sisi gelap, tapi justru sisi terang. Karena terang itu tahu hitung-hitungannya, tahu risikonya gedhe, jadi takut. Kalau gelap, tidak tahu apa-apa, usaha itu tidak takut. Dihitung atau tidak dihitung itu sama saja kok.
Padahal entrepreneur harus berani ambil risiko…

Itulah, ambil risiko itu berarti harus gelap. Maksudnya jangan terlalu banyak tahu. Setelah jalan, kita pakai ilmu street smart tadi. Street smart itu yang melahirkan kecerdasan entrepreneur yang dibutuhkan untuk pemula usaha. Isi kecerdasan entrepreneur itu ya kecerdasan emosional, spiritual, dan basisnya di otak kanan.

Bagaimana cara Anda merealisasikan gagasan Mega Entrepreneur?

EU ini saya yang buka dan pelatihannya saya yang mengajar sendiri. Saya bukan cari untunglah, tapi semacam aktulisasilah buat saya. Karena saya ingin jadi Mega Entrepreneur tadi. Sehingga saya bela-belain, ndak harus untung. Kalau nombokpun saya mau untuk memberikan dakwah tentang entrepreneurship ini. Itu yang saya lakukan, dan sudah dua angkatan EU di lima kota. Perkembangan pesertanya cukup positif. Yang sama sekali tidak berani berusaha, kini jadi berani.

Bagaimana tren kewirausahaan ke depan?

Saya kira itu suatu keharusan. Kalau negara ini mau maju, harus banyak pengusahanya. Kita belum ada kementrian yang khusus mengurusi wirausaha. Di Indonesia banyak bisnis yang bisa dikembangkan menjadi franchise dan tidak harus yang mahal. Di Malaysia sudah ada kementriannya, dan mentrinya mendorong mereka yang mau usaha franchise dsb.

Bagaimana entrepreneur yang ideal itu?

Ukuran ideal saya adalah dari banyaknya lapangan kerja yang diciptakan. Pengusaha yang bisa melahirkan pengusaha-pengusaha baru. Bisnisnya kalau bisa yang baik-baiklah. Saya suka mengurusi bisnis yang langsung ke pasar. Yang menilai dan menentukan bisnis saya ya pasar. Saya ndak model dengan bisnis lobi-lobi yang harus berhubungan dengan pemerintah.Pernah mengalami pencerahan selama menjadi entrepreneur?

Saya mengembangkan sisi spiritual melalui dzikir atau meditasi. Bisnis itu, kalau bisa ya melibatkan yang “di atas”. Tidak bisa berjalan dengan diri kita sendiri. Maka saya kembangkan kecerdasan spiritual. Kalau menggunakan intuisi saja, hanya bisa menunjukkan sesuatu tujuan itu seperti apa…. Tapi kalau dzikir, melibatkan Tuhan, kuncinya justru membuat tujuan itu terjadi.
Misalnya diramal orang kita tidak hoki. Dengan dzikir itu bisa jadi hoki. Yang tidak baik jadi baik. Arah negatif bisa jadi positif. Maka, menantang teori itu yang utama! Makanya, yang membuat orang takut itu bukan sisi gelap, tapi justru sisi terang.
Bangkit

Wujudkanlah mimpi anda, kembangkanlah “penglihatan pemikiran” yang selama ini terpendam, berikanlah arti pada hidup yang anda cintai ini. Semuanya berawal dari sebuah impian. Dunia dengan segala isinya diciptakan Tuhan dari “impian-Nya”.
Kisah-kisah keberhasilan para tokoh yang berhasil mengubah dunia, bermula dari mimpi, seperti apa yang dilakukan Galiileo, Thomas Alva Edison, Einstein, dan lain-lain. Bangunan-bangunan besar seperti candi dan piramid juga dimulai dari impian. Bahkan, majalah ini hingga akhirnya sampai ke tangan pembaca, juga diawali dari impian. Bila demikian, tampaknya segala sesuatu sangatlah mungkin untuk diwujudkan. Masalahnya adalah kebanyakan orang telah membuang jauh-jauh mimpi mereka ke tempat sampah, atau merasa bahwa mimpi mereka merupakan hal yang mustahil. Padahal, hampir semua mimpi bisa diwujudkan dengan sedikit kecerdikan, sedikit keberanian serta dukungan emosional.
Sebagai ilustrasi, pertengahan tahun 70-an Bill Gates bermimpi bahwa komputer akan tersedia di setiap rumah pada suatu masa nanti; Akio Morita bermimpi is bisa mendengarkan musik favoritnya sambil main tenis, tanpa harus mengganggu tetangga kiri-kanan; atau Sosrodjoyo yang bermimpi nantinya orang-orang akan memilih teh botol bikinan pabrik daripada repot-repot menyeduhnya di rumah.
Tetapi perlu kiranya dibedakan antara “mendambakan” dan “memimpikan”. Mendambakan bersifat pasif dan menunggu, hanya merupakan selingan iseng tanpa otak, tanpa upaya untuk mewujudkannya. Sedang memimpikan bersifat aktif dan berani mengambil inisiatif. la didukung oleh rencana dan tindakan untuk membuahkan hasil.
Tokoh-tokoh yang disebut di atas adalah contoh perbuatan memimpikan. Mereka tidak sekadar beranganangan, melainkan berupaya keras mewujudkan impiannya. Microsoft, Sony, dan Teh Sosro adalah hasil nyata dari mimpi-mimpi mereka.
Singkatnya, penglihatan pikiran membuka pintu untuk mewujudkan impian kita. Namun begitu pintu tersebut terbuka, harus ada tindakan nyata berupa: disiplin, kebulatan tekad, kesabaran, dan ketekunan bila kita ingin membuat impian tersebut menjadi kenyataan.
Penglihatan Pikiran

Pada hakikatnya setiap insan memiliki dua jenis penglihatan: penglihatan mata dan penglihatan pikiran. Penglihatan mata adalah apa yang kita lihat ada secara fisik di sekeliling kita, misalnya: mobil, gunung, pulpen atau teman-teman kita. Sebaliknya, penglihatan pikiran adalah sebuah kekuatan untuk melihat bukan apa yang ada secara fisik, tetapi apa yang bisa ada setelah intelegensia manusia diterapkan. Penglihatan pikiran adalah kekuatan untuk bermimpi.
Dr. David Schwartch, dalam The Magic of Thinking Success, yakin bahwa perasaan kita yang paling tak ternilai harganya adalah penglihatan pikiran. Penglihatan tersebut membentuk gambaran masa depan yang kita harapkan, rumah yang kita idamkan, hubungan keluarga yang kita dambakan, liburan yang akan kita ambil, atau penghasilan yang akan kita nikmati kelak (sumber : www.purdiechandra.com)

Read More......

Kamis, 02 April 2009

Kisah Sukses Mantan Seorang Petugas Keamanan

Fauzi Saleh, contoh seorang pengusaha sukses sekaligus dermawan. Ini berkat kompak dengan karyawannya. Derai tawa dan langgam bicaranya khas betawi. Itulah gaya H. Fauzi Saleh dalam meladeni tamunya.

Pengusaha perumahan mewah Pesona Depok dan Pesona Khayangan yang hanya lulusan SMP tersebut memang lahir dan dibesarkan di kawasan Tanah Abang, Jakarta. Setamat dari SMP pada tahun 1966, beliau telah merasakan kerasnya kehidupan di ibukota.

Saat itu Fauzi terpaksa bekerja sebagai pencuci mobil di sebuah bengkel dengan gaji Rp 700 per minggu. Bahkan delapan tahun silam, dia masih dikenal sebagai penjaga gudang di sebuah perusahaan. Tapi, kehidupan ibarat roda yang berputar.


Sekarang posisi ayah 6 anak yang berusia 45 tahun ini sedang berada diatas. Pada hari ulang tahunnya itu, pria bertubuh kecil ini memberikan 50 unit mobil kepada 50 dari sekitar 100 karyawan tetapnya. Selain itu para karyawan tetap dan sekitar 2.000 buruh mendapat bonus sebulan gaji. Total Dalam setahun, karyawan dan buruhnya mendapat 22 kali gaji sebagai tambahan, 3 bulan gaji saat Idul Fitri, 2 bulan gaji saat bulan Ramadhan dan Hari Raya Haji, dan 1 bulan gaji saat 17 Agustus, tahun baru dan hari ulang tahun Fauzi. Selain itu, setiap karyawan dan buruh mendapat Rp 5.000 saat selesai shalat Jumat dari masjid miliknya di kompleks perumahan Pesona Depok.

Sikap dermawan ini tampaknya tak lepas dari pandangan Fauzi, yang menilai orang-orang yang bekerja padanya sebagai kekasih. “Karena mereka bekerjalah saya mendapat rezeki.”, katanya. Manajemen kasih sayang yang diterapkan Fauzi ternyata ampuh untuk
memajukan perusahaan. Seluruh karyawan bekerja bahu-membahu. “Mereka seperti bekerja di perusahaan sendiri.” Katanya.

Prinsip manajemen “Bismillah” itu telah dilakukan ketika mulai berusaha pada tahun 1989 silam, yaitu setelah dia berhenti bekerja sebagai petugas keamanan. Berbekal uang simpanan dari hasil ngobyek sebagai tukang taman,sebesar 30 juta, beliau kemudian membeli tanah 6 x 15 meter sekaligus membangun rumah di jalan jatipadang, jakarta selatan.

Untuk menyiapkan rumah itu secara utuh diperlukan tambahan dana sebesar 10 juta. Meski demikian, Fauzi tidak berputus asa. Setiap malam jumat, Fauzi dan pekerjanya sebanyak 12 orang, selalu melakukan wirid Yasiin, zikir dan memanjatkan doa agar usaha yang sedang mereka rintis bisa berhasil. Mungkin karena usaha itu dimulai dengan sikap pasrah, rumah itupun siap juga. Nasib baik memihak Fauzi. Rumah yang beliau bangun itu laku Rp 51 juta. Uang hasil penjualan itu selanjutnya digunakan untuk membeli tanah, membangun rumah, dan menjual kembali. Begitu seterusnya, hingga pada 1992 usaha Fauzi membesar. Tahun itu, lewat PT. Pedoman Tata Bangun yang beliau dirikan, Fauzi mulai membangun 470 unit rumah mewah Pesona Depok 1 dan dilanjutkan dengan 360 unit rumah pesona Depok 2. Selanjutnya dibangun pula Pesona Khayangan yang juga di Depok. Kini telah dibangun Pesona Khayangan 1 sebanyak 500 unit rumah dan pesona khayangan 2 sebanyak 1100 unit rumah. Sedangkan pesona khayangan 3 dan 4 masih dalam tahap pematangan tanah.

Harga rumah group pesona milik Fauzi tersebut antara 200 juta hingga 600 juta per unit. Yang menarik tradisi pengajian setiap malam jumat yang dilakukannya sejak awal, tidak ditinggalkan. Sekali dalam sebulan, dia menggelar pengajian akbar yang disebut dengan pesona dzikir yang dihadiri seluruh buruh, keluarga dan kerabat di komplek pesona khayangan pertengahan september lalu, ada sekitar 4.000 orang yang hadir. Setiap orang yang hadir mendapatkan sarung dan 3 stel gamis untuk shalat. Setelah itu, ketika beranjak pulang, setiap orang tanpa kecuali, diberi nasi kotak dan uang Rp 10.000. tidak mengherankan, suasana berlangsung sangat akrab. Mereka saling bersalaman dan berpelukan. Tidak ada perbedaan antara bawahan dan atasan. Menurut Fauzi, beliau sendiri tidak pernah membayangkan akan menjadi seperti ini.

“Ini semua dari Alloh. Saya tidak ada apa2nya.” Kata pria yang sehari-hari berpenampilan sederhana ini. Karena menyadari bahwa semua harta itu pemberian Alloh, Fauzi tidak lupa mengembalikannya dalam bentuk infak dan shadaqoh kepada yang membutuhkan. Tercatat, beberapa masjid telah dia bangun dan sejumlah kaum dhuafa dan janda telah disantuninya. Usaha yang dijalankannya tersebut, menurut Fauzi ibarat menanam padi. “Dengan bertanam padi, rumput dan ilalang akan tumbuh. Ini berbeda kalau kita bertanam rumput, padi tidak akan tumbuh”. Kata Fauzi.

Artinya, Fauzi tidak menginginkan hasil usaha untuk dirinya sendiri. “Saya hanya mengambil, sekedarnya, selebihnya digunakan untuk kesejahteraan karyawan dan sosial.” Katanya.

Sekitar 60 % keuntungan digunakan untuk kegiatan sosial, sedangkan selebihnya dipakai sebagai modal usaha. Sejak empat tahun lalu, ada Rp 70 milyar yang digunakan untuk kegiatan sosial.

“Jadi, keuntungan perusahaan ini adalah nol.” Kata Fauzi. ” Jika setiap bangun pagi , kita bisa mensyukuri dengan tulus apa yang telah kita miliki hari ini, niscaya sepanjang hari kita bisa menikmati hidup ini dengan bahagia”
Read More......

  ©Template by Dicas Blogger.

TOPO