Kisah perjalanan hidup A Pramono (34) mirip cerita sinetron. Belasan tahun lalu, ketika pria kelahiran Madiun ini mengadu nasib ke Ibu Kota Jakarta, ia memulainya dengan menjadi office boy di sebuah perusahaan swasta. Lalu ia beralih menjadi pedagang ayam bakar di pinggir jalan. Ternyata sukses. Kini Pramono sudah menjadi miliarder yang memiliki banyak usaha. Siapa yang tidak ngiler?
"Kalau cerita saya dibikin sinetron mungkin akan menarik," kata pria pemilik usaha Ayam Bakar Mas Mono ini ketika bercakap cakap dengan Warta Kota di salah satu kedainya di Jalan Tebet Raya No 57, Jakarta Selatan, baru-baru ini.
Namun, ayah satu anak yang akrab dipanggil Mas Mono ini buru buru menambahkan bahwa sukses bisa diraihnya setelah melewati proses yang cukup panjang. la meyakini, dalam hidup ini tidak ada sesuatu yang instan. Artinya, kalau ingin sukses mesti lewat perjuangan.
"Orang tidak tahu dan mungkin tidak mau tahu, ketika memulai usaha ini saya harus ke pasar jam tiga dinihari. Jam empat subuh sudah menyalakan kompor, ketika kebanyakan orang masih tidur," ujar Pramono.
Awalnya, suami Nunung ini berjualan ayam bakar di pinggir Jalan Soepomo, Jakarta Selatan, persisnya di seberang Universitas Sahid. Di tempat itu, setiap hari-kecuali hari libur dia menggelar tenda, bangku dan meja untuk berdagang.
Dengan memakai kaus, celana gombrang dan sandal jepit, dia setia melayani pembeli yang datang dari pagi sampai pukul 14.00. Sebagian pembelinya adalah mahasiswa dan orang kantoran yang bekerja di wilayah tersebut.
"Tapi ya namanya dagang kaki lima, ada gilirannya. Saya dagang dari pagi sampai siang. Dagangan habis nggak habis saya harus tutup. Lalu, jam 14.00 diganti pedagang lain yang menjual nasi goreng, pecel lele dan seafood," tutur Pramono sambil memperlihatkan foto lamanya di laptop.
Pria yang menamatkan S3 (maksudnya tamat SD, SMP, SMA) di Madiun ini belakangan akrab dengan laptop karena dia menjadi salah seorang mentor nasional dari Entrepreneur University (EU). Foto-foto lamanya itu menjadi salah satu bahan presentasinya ketika membawakan materi tentang wirausaha.
Menurut Pramono, sejak dulu dia suka fotografi tapi hanya sebatas hobi. Bukan karena dia tahu akari sukses. Jika diamati, foto Pramono saat masih berjualan di pinggir jalan dan saat ditemui Warta Kota beberapa hari lalu, memang berbeda jauh. Dulu dia terlihat kurus, sekarang tampak macho dan keren.
"Ya, bedalah Mas. Dulu tidak terawat, sekarang terawat. Dulu nggak punya tabungan,sekarang tabungan banyak di bank," ujarnya sambil menunjukkan tabungannya yang pernah mencapai persis Rp 1 miliar.
Senang belajar
Salah satu kebiasaan positif yang dimiliki Pramono dan sangat memberi inspirasi adalah kesenangannya belajar sesuatu yang baru untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Tahun 1999, ketika menjadi office boy di sebuah perusahaan swasta, Pramono selalu memanfaatkan,waktu luangnya dengan belajar komputer. Bukan bermain bermain game seperti kebanyakan orang. Sebab dia tahu, dengan menguasai keterampilan itu kariernya bisa naik dan gajinya juga akan lebih besar.
Pramono benar, karena kariernya terus meningkat hingga akhirnya diangkat menjadi supervisor. Meski jabatannya cukup tinggi tapi dia terus tertantang untuk meningkatkan taraf hidupnya. Cita-citanya cuma satu, bagaimana caranya lebih membahagiakan orang-orang yang dicintai, keluarga dan orangtuanya.
Akhirnya, tahun 2001 dia keluar dart perusahaan tersebut dan memulai usaha dengan berjualan gorengan keliling di seputar,wilayah Pancoran, Jakarta Selatan. Langkahnya rada ekstrem. Sebab, bagi Pramono, untuk memulai usaha tidak perlu banyak berpikir, apalagi menghitung rugi laba. Yang terpenting adalah melakukan action.
"Banyak saudara saya yang tidak terima dengan keputusan itu. Apalagi pada awal-awal berdagang, omzetnya baru Rp 15.000 sampai Rp 20.000 per hari," ujarnya.
Meski menghadapi banyak tantangan, Pramono tidak mau mundur. Sampai akhirnya dia mendapat lapak kosong di seberang Universitas Sahid. Dengan modal Rp 500.000 untuk membeli gerobak dan peralatan lainnya, termasuk ayam lima ekor, Pramono membuka lembaran barunya dengan menjual ayam bakar. Namun karena belum mahir mendorong gerobak, pernah suatu ketika ayam dagangan jatuh ke pasir. Terpaksa ayam tersebut harus dibersihkan dulu.
"Kalau orang lain mungkin sudah mikir macam-macam. Wah ini tanda sepi, nggak laku, karena baru mau jualan ayamnya sudah jatuh, sial. Namun, kalau saya justru berpikir lain. Wah, ini pertanda bagus, dagangan saya bakal laku. Sebab, saya menggunakan otak kanan. Selalu optimis dan percaya dirt," tegas Pramono.
Terlepas dart peristiwa itu, beberapa tahun kemudian usaha Ayam Bakar Mas Mono berkembang pesat. Dia mempunyai 13 cabang dan dalam satu hari bisa menjual 1.000 ekor ayam. "Sampai sekarang saya merasa seperti mimpi. Kok bisa ya," kata Pramono
Sumber : Kompas.com
Read More......
Rabu, 22 April 2009
Joko Sriyanto, Kuli Bangunan Jadi Juragan Batako
Menjadi pengusaha sukses adalah impian banyak orang. Namun, tak banyak orang yang berani mencapainya tanpa modal yang memadai. Banyak orang beranggapan, untuk menjadi pengusaha sukses harus punya modal besar. Namun, Joko Sriyanto telah mematahkan anggapan itu.
Bagi Joko, modal paling penting adalah kemauan dan keberanian menghadapi risiko. Kedengaran klise, tapi Joko rnembuktikan itulah yang membuatnya berhasil menjadi pengusaha batako dengan omzet miliaran.
Lelaki yang tahun ini berusia 40 tahun cuma lulusan STM. Tapi, kini ia telah menjadi pengusaha sukses yang bisa mengurus bisnis atau sekadar jalan-jalan dengan mengendarai Mercedes-Benz bernomor J 0 KO. "Kemarin saya juga barusan naik haji," tuturnya. Joko yang dulu hidup di rumah berukuran 2 x 6 meter selama 10 tahun, kini tinggal di rumah megah yang berdiri di atas tanah seluas 6.000 m2.
Ya, Joko yang dulunya hidup pas-pasan dan sempat menjadi kuli bangunan kini telah mejadi juragan batako besar dari Sleman. Lewat UD Marga Jaya yang dia dirikan tahun 1999, Joko kini meraup omzet Rp 2 miliar setahun.
Sejumlah perusahaan kontraktor perumahan swasta di Semarang, Tegal, Yogyakarta, dan Solo kini tercatat sebagai pelanggan tetap Joko. Selain itu, Joko juga memiliki 14 truk pengangkut batako dan memiliki sekitar 120 pekerja.
Menurut Joko, semua kesuksesan itu adalah buah kerja keras dan keberuntungan. Ia mengaku tak punya warisan, kecerdasannya pun biasa saja. Semasa sekolah ia bukanlah murid pintar. "Nilai saya jelek terus," tuturnya tersipu.
Joko mengenal usaha batako secara tak sengaja. Pada 1987, Joko muda bekerja di sebuah bengkel mobil di Jakarta. Setelah beberapa bulan bekerja, ia tak kunjung mendapat upah.
Menyadari diperlakukan semena-mena oleh majikannya, Joko pun minggat. Ia menerima pekerjaan serabutan sekadar untuk bertahan hidup. Apalagi, ia butuh duit buat biaya pulang kampung.
Peluang kerja yang terbuka baginya saat itu adalah menjadi kuli bangunan. "Saya butuh duit, jadi saya terima pekerjaan kasar itu," kenang Joko. Tapi, siapa sangka justru dari pekerjaan kasar itulah pintu keberuntungan Joko mulai terbuka.
Selepas empat bulan bekerja sebagai kuli bangunan, Joko pun memutuskan pulang ke kampung halamannya di Sleman. Di sana ia bekerja di usaha bangunan milik sang kakak.
Didorong keinginan kuat untuk mandiri, Joko memutuskan membuka usaha sendiri. Dengan modal awal sebesar Rp 350.000 dari hasil dari sumbangan pernikahannya, suami Istuti Ening Setiawati ini memutuskan membuka bisnis sendiri.
Joko menggunakan modal sebesar itu untuk membeli 100 sak semen yang bisa menghasilkan 400 bis beton. "Untuk cetakan, saya pinjam dari kakak," ujarnya sembari tersenyum. Dari penjualan 400 batako, Joko berhasil mendapatkan Rp 1,2 juta. Uang tersebut langsung ia putar kembali untuk membeli semen dan pasir yang merupakan bahan baku bis beton.
Setiap hari bis beton bikinan Joko selalu habis dibeli pelanggan. Hal ini karena kualitas bis beton bikinan Joko bagus. "Bahkan belum sempat kering, orang sudah antre beli bis beton," ujarnya sembari terkekeh.
Selain karena kualitasnya yang bagus, pelanggan menyukai bis beton buatan Joko, terutama karena Joko bersedia memberikan utangan bagi pembelinya.
Tanggapan pasar yang begitu hangat memacu Joko makin serius mengembangkan usahanya. la merekrut sejumlah orang di desanya untuk membantu proses produksi. Karena usahanya belum stabil, ia menambah pekerjanya secara bertahap.
Produk Joko pun terus berkembang, tidak lagi hanya bis beton. "Saya juga memproduksi tegel dan batako," ujar Joko.
Ekspansi produk Joko ini juga sukses. Pesanan tegel miliknya mengalir kencang. Maklum saja, waktu itu di Sleman sedang gencar-gencarnya orang melakukan pembangunan proyek rumah sederhana. Kini, selain bis beton, tegel, dan batako, Joko juga memproduksi paving block dan semen curah.
Tak banyak yang tahu, usaha Joko membangun bisnisnya hanya berdasarkan pengalaman, bukan berdasarkan ilmu sekolah. Meski begitu, Joko cukup cerdas dengan menguji kualitas produknya ke laboratorium di Universitas Gadjah Mada (UGM).
Alasannya simpel saja, biasanya orang akan lebih percaya kalau sebuah produk memiliki sertifikat.
Sukses Joko bukannya tanpa kendala. Setelah usaha bis beton berkembang, ia juga menggarap tegel. Tapi, belakangan, permintaan tegel atau ubin terus menurun. "Waktu itu orang lebih memilih memakal keramik ketimbang ubin buat membangun rumah," tutur lelaki kelahiran Klaten ini.
Otak Joko berputar cepat mencari ide lain. Ia lantas mengutak-atik lima mesin pembuat tegelnya. Ia berusaha mengubah spesifikasi dan fungsi alat itu menjadi mesin pembuat batako. Alhasil, bisnis Joko tertolong oleh produksi batako.
Namun Kemurahan hati Joko memperbolehkan pelanggannya membayar dengan mencicil berbuah pahit. Beberapa pelanggan sempat mangkir membayar utang. Pada tahun 2006, ia menelan kerugian sampai Rp 240 juta gara-gara seorang pelanggannya mangkir. Saat menagih utang, Joko malah mendapat ancaman. "Banyak preman datang ke rumah, Saya jadi takut," kenang getir.
Gempa Yogyakarta tiga tahun silam juga memorakporandakan usaha Joko. "Pas gempa, batako saya hancur dan menimpa mesin," tutur Joko. Kerugiannya mencapai Rp 100 juta.
Meski begitu, Joko tidak menyerah. la terus belajar dari kegagalannya. Selain itu, Joko bisa bertahan berkat kebiasaannya menabung. Pada 1995, Joko membeli motor dengan angsuran Rp 250.000 per bulan. Dua tahun kemudian, saat kreditnya lunas, ia menjual kembali motornya. "Saya butuh duit buat membayar uang muka mesin genteng," ungkap Joko.
Meski kondisi ekonomi sudah berkembang, Joko tak lantas berubah. la tetap memakai celana pendek dan kaos saat menjalankan usaha. Gara-gara cara berpakaian yang sederhana itu, ia pernah dipandang sebelah mata oleh bank. Sebab, wajah dan cara berpakaiannya tak mencerminkan tanda kemakmuran.
Cara hidup sederhana Joko itu tak lepas dari cita-citanya semasa kecil. Waktu itu ia ingin menjadi guru yang hidup sederhana. Tapi, selulus Sekolah Menengah Pertama (SMP), lamarannya ke Sekolah Pendidikan Guru (SPG) di Solo ditolak. "Tinggi badan saya tak cukup," katanya.
Meski sukses seperti sekarang, Joko mengaku tak langsung jumawa. la tetap menghargai orang lain. "Saya banyak mengambil pekerja lulusan SD," kata bapak tiga anak dari satu istri ini.
Sumber : www.Kompas.com
Read More......
Senin, 20 April 2009
Mulai Usaha Dari Nol, Bukan Berarti Lebih Susah
Setelah wira-wiri cari informasi tentang dunia mini dan supermarket, akhirnya, Trias dan suami memutuskan untuk membuka usaha sendiri. Berbekal ilmunya, alumni UNS Fakultas Ekonomi ini nekat membuka Family 19 Mini market. Walau modal pas-pasan, tantangan bukan hambatan.“Kami benar-benar dari nol. Pertama kali yang kami lakukan adalah mendatangi beberapa supermarket dan minimarket untuk bertanya, bagaimana caranya membuka usaha seperti mereka. Dari sana muncul dua wacana. Pertama, membuka usaha melalui franchise. kedua, usaha dengan buka sendiri alias wiraswasta murni”, ungkap trias.
Seribu jalan menuju sukses. Demikian pendapat trias dalam hal membangun usahanya. Meskipun semuanya dari nol, ia berusaha keras menciptakan cara-cara baru untuk meraih keuntungan melalui minimarket yang ia bangun.
“kami menganggap bahwa yang ada dihadapan kami adalah tantangan yang menarik untuk segera diselesaikan. Resiko selalu ada, tetapi bagaimana dapat diminimalis, atau bahkan dihindari”, kata ibu satu anak ini.
Karena semua tergolong baru, manajemen karyawan pun, bagi trias juga hal yang baru pula. Dalam hal ini ia mengaku banyak belajar dari teman seniornya di salah satu supermarket di solo.
“manajemen SDM adalah salah satu hal tersulit yang kami alami. Walaupun karyawan baru sedikit, 6 orang, sebagai pengelola, kami memiliki sistem untuk memaksimalkan tenaga, sehingga tidak mubadzir”, aku istri indro ini.
Lemahnya manajemen, mengakibatkan banyak barang hilang. Barang habis terjual tetapi omset tidak juga bertambah. Makannya kita terus belajar dan belajar, baik kepada buku maupun belajar kepada mereka yang lebih berpengalaman.
Menurutnya, walaupun family market belum punya nama, ia cukup bangga dapat melayani masyarakat dengan sebaik-baiknya. Terbukti, dari sekian banyak pelanggannya merupakan masyarat sekitar tempat tinggalnya.
Family minimarket mengalami kenaikan omset secara alami. Mulai dari nol rupiah, omset family market saat ini mencapai 75 juta hingga 100 juta dalam satu bulan. Yang menurut trias merupakan jumlah yang wajar dilihat dari barang yang ada.
“biar semua berjalan alamiah saja. Omset yang penting meningkat dari bulan ke bulan selanjutnya”jelas trias.
Sudah 4 tahun family market melayani masyarakat. Sudah 4 tahun pula family market belajar untuk sukses. Kedepan, trias berharap, family dapat berkembang dengan baik secara alami. Dan dapat diduplikasi kedaerah-daerah lain.
Sumber : Majalah Hadila
Read More......
Saptuari, Owner Kedai Digital
Bermula dari sebuah kios sederhana 2x7 meter yanga didapat dari menggadaikan rumah dan motor, kini Kedai Digital – usaha yang bergewrak dalam bisnis merchandise – telah memiliki 20 cabang di 14 kota. Bisnis tersebut didirikan sejak 28 Maret 2005, di sebuah kios kecil di daerah Demangan Yogyakarta. Kedai ini memiliki konsep foto Digital yang kemudian dijadikan merchandise pribadi.Menurut lelaki yang akrab dipanggil Mas Saptu ini, bisnis yang kini ia geluti bermula dari pengamatannya terhadap orang-orang yang berebut barang-barang sederhana yang bergambar artis. “Saya terus berfikir… kenapa sih benda yang sederhana itu menjadi unik ketika ada embel-embel brand tertentu di dalamnya”, ungkapnya. Dari situlah kemudian ia menemukan konsep bisnis “merchandise pribadi”, atau selanjutnya ia beri branding “merchandise untuk semua!”. Menurutnya, dengan begitu semua orang berhak punya merchandise sendiri tanpa terlebih dahulu menjadi seorang artis terkenal.
Jika kebanyakan orang memulai usaha dari nol, lain halnya dengan Saptuari. Ia justru memulai usaha dari minus. Sebab, modal 28 juta yang ia dapatkan dari hasil hutang di bank, ternyata hanya cukup untuk sewa tempat ukuran 2x7 meter bekas kandang becak, yang dindingnya triplek, atapnya seng bocor, dan tidak ada WCnya. Tapi meski begitu, bagi Saptu The Show must go on. Dengan bermodal rasa optimis dan keyakinan bahwa usaha ini akan berjalan, ia tetap tekun menjalaninya. “Tuhan Maha Kaya, masak sih kita yang usaha yang berdarah-darah gak dikasih rejeki”, paparnya. Jika dulu awalnya hanya beromset 9 juta-an per bulan, tapi kini bisa mencapai 200-300 juta/bulan. Itu pun hanya berasal dari 9 cabang yang ada di Yogyakarta saja. “Tuhan memang benar-benar Kaya, kami hanya menjalankan titipan-Nya saja untuk dikelola sebaik-baiknya”, ujarnnya merendah.
Memilih nama harus unik
Di awal-awal bisnis ini berlangsung tidak lantas memakai branding Kedai Digital, tetapi sempat beberapa kali berganti nama. Sebelum memperoleh nama Kedai Digital, sempat didesain dengan nama Rumah Poster, Poster factory, Pojok Digital, Warung Digital, dan lain-lain. Sampai akhirnya menemukan nama KEDAI DIGITAL. Mengenai alasan pemilihan nama, Saptu memiliki alasan tersendiri. “Memilih nama usaha memang kalo bisa yang unik, gak norak, dan gak gampang ditiru. Kalo sudah nama usaha kita daftarkan di Dirjen HAKI, biar jadi merk resmi, sehingga tidakj sembarangan bisa ditiru orang,” jelasnya.
Ketika ditanya mengapa memilih bisnis merchandise, Saptu mengatakan bahwa bisnis ini memiliki keterkaitan erat dengan bisnis lain. “Semua perusahaan butuh branding untuk mempromosikan produknya,” jelasnya. Apalagi dalam perkembangan dunia usaha di era global saat ini. Selain itu, lanjutnya, KedaiDigital mempunyai segmen pasar yang unik, yaitu anak muda.
Dalam strategi pengembangan bisnis, Kedai Digital mengembangkan sistem Kemitraan dengan sistem BO (Business Opportunity). Sistem ini berupa peluang bisnis yang bisa dijalankan dan diduplikasi di banyak tempat. ”Kami buktikan sistem bisnis ini sukses di Yogyakarta, harusnya kalo diduplikasi ditempat lain dengan sistem yang sama maka suksesnya juga sama”. Saptu juga menerangkan bagi siapa saja ingin menerapkan sistem ini. ”Bagi yang berminat memiliki cabang kedai digital file kerjasama bisa di download di www.kedaidigital.com.” Dengan Sistem BO biaya yang dibayarkan kepada kami diawal hanya 33 juta, sedangkan modal keseluruhan dengan tempat, komputer dll sekitar 80 juta. ”Target Balik modal sekitar 1,5 - 2 tahun,” tambahnya.
Berani mengambil resiko
Saat diminta jawabannya mengenai sifat yangh harus dimiliki dari seorang pengusaha, ia hanya menekankan bahwa kita tidak boleh takut akan resiko. ”Berani mengambil resiko,, tidak takut gagal, selau berfikir positif, dan selalu memiliki ide-ide baru.” selain itu, lanjutnya, seorang pengusaha tidak boleh mudah menyerah. Baginya, sebagai seorang pengusaha harus yakin bahwa pilihan hidupnya bukan hanya sekedar mencari materi saja, tapi benar-benar bagian dari ibadah. Apalagi jika kita bisa menjadi jalan rejeki untuk orang lain. ”InsyaAllah kalo kita niatnya sudah lurus, semua akan dimudahkan oleh-Nya.”
Terakhir, Saptu juga memberikan pesan kepada para pengusaha agar bersemangat dalam usahanya masing-masing. ”Mulailah Action dan jangan kebanyakan mikir. Jalankan usaha kita. Yakinlah kalau Tuhan Maha Kaya yang menjamin rejeki kita.
”Semut saja setiap hari dapat makan, Gajah yang tidak sekolah bisa gemuk. Allah sudah memberi hati dan pikiran pada kita, maka dari itu kita harus memaksimalkan kemampuan untuk mencari rizki-Nya. Jangan Takut gagal, karena jika kita takut gagal berarti kita juga takut sukses, Jangan pernah malu berwirausaha.”
Maju terus wirausaha Indonesia!!!!
Saptuari S.
Direktur Kedai Digital
Sumber : Produkmuslim.com
Read More......
Minggu, 19 April 2009
Iwan Sunito, Menaklukkan Bisnis Properti Negeri Kanguru
Arek Suroboyo ini sudah menetap selama 20 tahun di Australia. Bersama dua mitranya, ia merentas sukses di bisnis properti. Bagaimana Iwan Sunito mencapainya?Australia, tak hanya dikenal sebagai negara yang memiliki panorama indah. Peluang bisnis pun, ternyata terbuka lebar bagi siapa saja yang mau mencoba. Salah satunya yang berhasil mengembangkan bisnis di negeri ini adalah Iwan Sunito, pria asal Surabaya. Ceritanya, 20 tahun lalu, lelaki kelahiran Juli 1966 ini datang ke sana untuk menimba ilmu di Jurusan Arsitektur Universitas New South Wales, Australia. Kemudian, ia melanjutkan S-2-nya di kampus yang sama dengan mengambil spesialisasi Manajemen Konstruksi.
Setelah lulus pada 1992, ia pun mencoba peruntungan di Cox Richardson Architects, perusahaan yang menggarap proyek Olyimpic 2000 di Australia. Selama dua tahun di perusahaan ini, ia menyadari, jika terus bekerja di perusahaan orang, akan sulit mencapai target hidup seperti yang diharapkan.
Maka, pada 1994, keputusan penting dibuat; merintis usaha sendiri sesuai dengan keahlian. Segmen yang dibidik adalah rumah-rumah mewah. "Jiwa saya bukan mengerjakan rumah-rumah murah," kata peraih penghargaan The Best Residential Designer ketika menyelesaikan S-1-nya ini. Bukannya berkmasud jumawa, hanya saja, dijelaskan Iwan, proyek rumah murah di Australia sudah terlampau banyak dan persaingannya juga ketat.
Rumah pertama yang dirancang Iwan adalah rumah mewah di daerah Rose Bay. Nilai total proyek ini Aus$ 500 ribu. "Lumayanlah, baru pertama kali langsung dapat proyek besar," katanya sembari tersenyum. Setelah itu, bisnisnya berkembang baik. Proyek perkantoran dan unit perumahan mulai digarap. Sebenarnya, "Bisnis ini bisa berkembang lebih besar dengan jumlah arsitek sekitar 100-200 orang," ujarnya optimistis. Namun, ia merasa, bisnis arsitek cuma bagus untuk sekadar memiliki cash flow.
Iwan pun memutar otak, mencari peluang yang memungkinkannya melakukan gebrakan. Setelah melihat-lihat, bisnis property development pun dilirik. Di bisnis ini, ia mempunyai bekal karena tesis yang dikerjakannya juga tentang hal yang sama. "Jadi, arahnya saya belokkan ke property development," katanya.
Kendati memiliki pengetahuan dan pengalaman membangun rumah, bukan berarti sukses langsung digenggam. Awalnya, proyek perumahan kecil berisi 5-6 unit rumah yang diincar. Akan tetapi, ketika sudah menemukan lokasi yang cocok, Iwan tak jadi membelinya. Alasannya, "Harganya terlalu mahal. Saya tidak berani membeli."
Tahun 1996, ia menemukan tanah yang cocok untuk membangun 55 unit rumah di daerah Bondi Junction dengan harga Aus$ 28 juta. "Ini nilai proyek pertama saya," ujar Iwan. Karena nilai investasinya besar, ia pun mengajak dua teman baiknya mengerjakan proyek ini bersama-sama. "Sejak itu, kami merasa cocok. Kemudian, saya memutuskan merger dengan mereka yang memang sejak awal sudah bergerak di bidang property investment & development," lanjutnya. Karena itu, pada tahun yang sama dibentuklah Crown International Group, yang merupakan hasil merger beberapa perusahaan.
Iwan berkisah, bukan perjuangan mudah menjadi pengusaha di negeri orang. Ia merasa harus banyak belajar. Untungnya, sistem pemerintahan Australia memudahkannya membangun bisnis. "Di Australia, proses izin sangat transparan. Kalau toh tidak diizinkan, di sana ada pengadilan sistem yang bisa memutuskan. Jadi, tidak ada sistem yang dimanipulasi," paparnya.
Ini berbeda dengan di Indonesia, yang ia dengar sering dijumpai hal-hal ganjil. Sekadar mengambil contoh, soal sertifikat ganda, di Indonesia sudah umum terjadi. Sementara di Australia, itu merupakan tindak kejahatan yang bisa diajukan secara hukum.
Diakui Iwan, potensi pasar di Indonesia untuk bisnis properti masih sangat besar. Namun, sejauh ini, soal transparansi masih sering dipertanyakan. "Ketika teman-teman di Australia mengundang Robby Djohan atau Emil Salim untuk diskusi, selalu saja pertanyaannya menyangkut legal transparancy. Mereka butuh jaminan. Ada beberapa hal di Indonesia yang membuat kami tidak nyaman berbisnis, " Iwan mengungkapkan.
Dalam pandangan Iwan, orang yang sudah terbiasa dalam iklim bisnis seperti di Australia, akan mendapat hambatan besar jika masuk ke pasar di Indonesia. "Tidak sebanding antara keuntungan dan risikonya," ujarnya berseloroh. Sejauh ini, ia belum terpanggil untuk berbisnis di negeri sendiri. "Saya harus berpikir banyak. Paling tidak, saya harus mengerti sistem di Indonesia," tuturnya serius. Terlebih, banyak hal yang membuatnya bingung. Umpamanya, dalam hal jual-beli tanah. Di Australia, disebutkan Iwan, proses pembelian tanah hanya membutuhkan waktu tiga hari. Sementara di Indonesia, ia menduga, mungkin bisa memakan waktu sampai berbulan-bulan.
Kendati demikian, bukan lantaran itu ia takut memulai bisnis di Indonesia. Alasan yang sebenarnya, "Saya sudah lama di Australia dan tahu benar peta geografi negeri ini, serta peluang yang ada di sana."
Sekarang, Iwan masih fokus menggarap proyek di Sydney yang populasinya hanya sekitar 20 juta orang. "Buying power penduduk Sydney besar. Tinggal bagaimana kita menggarapnya," Iwan menandaskan. Selama tinggal di Australia, ia mengamati, investasi properti di Sydney jauh lebih bagus daripada dalam mata uang asing. Sekadar contoh, pada 1985 harga rumah di Sydney sekitar Rp 96 juta. Sekarang, bisa mencapai Rp 4,8 miliar. Bayangkan, berapa keuntungannya?
Ke depan, Sydney diyakini Iwan masih sangat prospektif. Di daerah ini, banyak orang yang sukses dalam hidupnya dan mempunyai daya beli yang tinggi. Bahasa apa pun ada di wilayah ini. Bahkan, "Sekarang mulai bertebaran perusahaan multinasional yang mendirikan headquarter di daerah ini," katanya. Agaknya, Sydney menjadi pilihan karena tempatnya indah dan top executive-nya lebih senang tinggal di daerah ini. "Banyak orang yang rebutan ingin masuk ke sini," ungkapnya.
Selain Sydney, daerah lain yang pertumbuhan bisnis propertinya bagus, menurut Iwan, adalah Melbourne dan Queensland. "Kalau di Sydney dan Melbourne sudah sejak dulu. Kini Queensland juga banyak diincar karena lokasinya dekat pantai. Harga rumah di Queensland juga masih murah," papar Iwan seraya menjabarkan, beberapa tahun lalu, 70% penduduk Australia lebih senang tinggal di daerah rural. Namun saat ini, mulai terjadi pergeseran. "Kalangan muda menilai, untuk memulai hidup di Sydney terlalu mahal," ujar Iwan.
Kendati begitu, Sydney tetap dipilih untuk proyek propertinya. Diakui Iwan, di kota itu, sebetulnya agak susah mencari tanah. Namun, tak ada kata gentar yang hinggap. "Kalau mendapat tanah yang harganya cocok, akan baik untuk bisnis," katanya. Lagi pula, "Saya sudah lama tinggal di sini sehingga tahu pasarnya," ia menukas. Sejauh ini, ia mengaku belum ada rencana mengembangkan bisnisnya di dua daerah potensial yang lain.
Iwan mengungkapkan, ada dua hal yang membuatnya bisa bertahan di negeri orang dan meraih sukses. Pertama, mengerti sistem yang berlaku dan berhubungan baik dengan orang-orang yang berada di dalam sistem itu. Kedua, harus tahu positioning produk sendiri dan menciptakan keunikan. Misalnya, ia mengamati, di Sydney banyak orang tua yang sudah mencapai usia pensiun ingin pindah dari rumah mereka yang besar (senilai Aus$ 1-2 juta) ke yang ukurannya lebih kecil. Di pasar, rumah yang ditawarkan ukurannya terlalu kecil. Untuk menjawab kebutuhan itu, ia pun mengembangkan rumah mewah di lokasi yang transportasinya bagus dan ada fasilitas convenience store-nya. Ukurannya, diklopkan dengan permintaan pasar.
Hal yang sama juga terjadi ketika mengerjakan proyek di Bondi. Di tempat ini, yang digarap adalah perumahan eksklusif. "Kami tahu daerah ini dikelilingi orang yang tinggal di rumah senilai Aus$ 4 juta," kata Iwan. Maka, dibangunlah proyek yang unik dan berbeda. Biasanya, orang membuat satu unit rumah dengan dua kamar tidur luasnya 80 m2. Namun, ia membuatnya menjadi 95 m2. Atau, yang biasanya tiga kamar tidur seluas 95 m2, diperluas menjadi 135 m2. "Tidak ada kompetitornya. Positioning kami adalah terhadap market tertentu, daerah tertentu dan menjangkau kebutuhan di daerah tersebut," tutur Iwan, yang dengan strategi itu pula merasa lebih mudah memasarkan produknya.
Di samping itu, budaya setempat juga diperhatikan Iwan. "Saya tahu kalau orang Asia senang tinggal di kota yang ramai, dan ada shopping center-nya. Sementara orang bule profesional, lebih suka di daerah yang trendi. Dan orang yang sudah tua, tidak akan pindah ke daerah lain yang belum pernah dia tinggali," Iwan menuturkan. Budaya-budaya ini yang dulunya tidak ia mengerti. Ia sempat heran melihat orang yang berani membayar mahal, padahal daerahnya bukan di daerah strategis. Ternyata, alasannya sederhana saja. "Mereka sudah lama tinggal di situ dan anak mereka juga tumbuh di lingkungan itu."
Dilihat dari skala bisnisnya, Crown termasuk perusahaan kelas menengah. "Nilai proyek kami sekitar Aus$ 80-200 juta per proyek," ungkap Iwan. Di kelas ini, pemainnya relatif banyak, yakni 20-30 pemain. Sementara di kelas atas, hanya ada 5-6 pemain dan biasanya perusahaan publik. "Sydney itu besar sekali. Kami tidak bisa meng-handle sendirian," paparnya. Jika tender proyek berlangsung, biasanya yang berkompetisi hanya 3-4 perusahaan. Ia sendiri sering memperoleh proyek tanpa melalui tender. "Kebanyakan private deal," ia menambahkan. Sebagai contoh, bila Iwan melirik sebidang tanah, ia akan menghitung dengan kacamata bisnis, lalu mengajukan penawaran langsung ke pemiliknya.
Di proyek yang diberi nama Genesis -- proyek apartemen dan ritel berkualitas tinggi di daerah Epping -- Iwan tidak sendirian, melainkan join ventura dengan pengembang properti lain, Lyon Group. Nilai proyeknya Aus$ 80 juta. Saat ini, proses konstruksi Genesis telah dimulai. Proyek ini akan selesai pada 2006, bersamaan dengan rencana Pemerintah New South Wales menyelesaikan railway line dari Chatswood ke Epping. Pada saat peresmian nanti, PM Australia, John Howard berkenan hadir untuk meresmikan proyek tersebut.
Di atas lahan seluas 4000 m2 itu, akan dibangun 98 apartemen beragam tipe -- tipe studio, apartemen dua kamar dan tiga kamar. Untuk tipe studio, harganya berkisar Aus$ 340-545 ribu untuk dua kamar tidur, dan Aus$ 650 ribu untuk tiga kamar tidur. Sementara itu, untuk jenis sub-penthouse harganya Aus$ 995 ribu dan luxury penthouse ditawarkan mulai dari Aus$ 1,135 juta.
Selama tinggal di Sydney, Iwan mengaku banyak belajar tentang pola pikir bangsa lain. Berdasarkan pengamatannya, yang membuat orang Indonesia tak berhasil membangun bisnis di Australia bukan karena tak mampu. Melainkan, kesalahan dalam membaca pola pikir masyarakat di sana. "Mereka berharap kesuksesannya di Jakarta bisa langsung dibawa ke Australia," ujarnya berargumen. Padahal, tidak semudah itu menerapkannya. "Untuk masuk ke sini, orang Indonesia harus bisa menghapuskan halangan-halangan terlebih dulu," katanya. Apa yang dimaksud dengan halangan-halangan?
"Bahasa dan budaya," jawab Iwan. "Halangan bahasa adalah penyebab utama masuk ke networking mainstream," katanya. Bila networking-nya terbatas, informasinya pun jadi terbatas. Di samping itu, halangan bahasa juga harus bisa dihilangkan. "Dan, jangan terburu-buru. Kita harus tahu benar budaya di sini," tambahnya.
Ia mengambil contoh temannya, seorang pengusaha asal Indonesia yang ingin mengembangkan perumahan di Melbourne. Total nilai proyeknya sekitar Aus$ 120 juta. Lokasinya dekat kasino, sedangkan di seberangnya tempat para pelajar. Ketika melihat rancangannya yang mahal, ia sudah menebak bahwa itu tidak akan berhasil. Kalau di Sydney, perumahan di dekat kasino akan laku keras. "Tapi tidak di Melbourne," ia menandaskan. "Ia tidak sadar bahwa orang lokal tidak mau dan tidak suka tinggal di tempat seperti itu," tambahnya.
Jelas, tak mudah mengembangkan bisnis di negeri orang. Selain harus memahami budaya setempat, bahasanya pun harus dikuasai dengan baik dan benar. Dan yang tak kalah penting, tentu saja, harus kenal banyak orang. Sebab, dengan jaringan yang ada di mana-mana itulah, Iwan Sunito bisa meraih impiannya di Australia. Itulah kiat si arek Suroboyo ini merentas suksesnya di Negeri Kanguru. Ada yang punya nyali menyusul jejaknya?
sumber : www.swa.co.id
Read More......
Sabtu, 18 April 2009
Ali Hufroni > Uang, Bukan Modal Utama
Bagi kebanyakan orang, uang adalah modal utama dalam mendirikan usaha atau mempertahankan sebuah usaha. Hal ini tidak bagi profil edisi kali ini. Menurutnya, uang bukan modal utama dalam usaha. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa uang adalah nomor kesekian dari suatu usaha.Ia adalah Ali Hufroni. Pria asli Boyolali ini, memiliki usaha dalam bidang property, interior, dan kontraktor. Menurut bidang usahanya, bisa dipastikan membutuhkan modal yang besar. Tetapi, menurut Ali, panggilan akrab Ali Hufroni, tidak demikian. Ia mengatakan bahwa uang bukan modal utamanya dalam membangun usaha, bahkan uang merupakan modal yang kesekian dibanding modal-modal yang lain.
Sebelum terjun didunia property, pria alumni SMA 6 ini, memulai usaha dibidang perbukuan, tepatnya membuat buku. Usaha ini tidak berlangsung lama, karena merasa kurang sesuai dengan ilmu yang ia dapatkan di meja kuliah “teknik sipil” UMS (Universitas Muhammadiyah Surakarta).
Kemudian Ali banting setir ke dunia property. Kebetulan ketika itu, iklim bisnis property sedang bergairah dan naik. Terbukti, perusahan yang didirikan Ali langsung mendapat proyek. Setelah proyek pertama selesai, ternyata order tidak kunjung datang lagi.”Proyek sepi”, kata Pria pemiliki tubuh tinggi besar ini.
Akhirnya diputuskan untuk bergabung dengan salah satu temannya yang lebih dulu menekuni dunia property. “Ketika itu, niat saya untuk bekerja dan belajar dengan teman saya ini”, kata Ali.
Sambil berjalannya waktu, Ali kembali mandiri. Perusahaan yang dahulunya sempat berhenti karena sepi order, lambat-laun mulai dilirik orang. Order-demi order datang silih berganti.
“Saya mandiri lagi. Mulai dari nol”, kata pria yang hobby renang ini. Hingga saat ini, Ali berhasil menyelesaikan 5 perumahan yang tersebar di kota Solo, yaitu Quality Regency, Griya Arrahmah, Quality Garden dan Green Garden.
Selain itu, Ali terus mengembangkan usaha dibidang yang terkait dengan property. “Ada interior, kontraktor, developer”, jelasnya. Dalam membangun usaha, Ali mengaku tidak ada rahasia-rahasiaan. Semua blak-blakan. Menurutnya, uang bukan modal utama dalam usahanya.
“Modal pertama dan utama kami adalah kepercayaan, benar kata para pakar, bahwa uang bukan modal utama dalam membangun usaha, jelas Ali pada hadila. “Ketika itu, kami akan mendirikan Quality Regency, kami harus membeli tanah seharga hampir 1 milyar. Padahal saat itu, saya tidak memiliki uang sebesar penawaran. Setelah lobby dilakukan, pemilik tanah bersedia jika diberi uang muka sebesar dua juta rupiah saja. bisa dibayangkan, harga semahal itu –hampir 1 M- bisa dibeli dengan uang muka hanya 2 juta saja. Selang beberapa waktu, pemilik tanah datang menagih kekurangan uang tanahnya. Padahal, baru 2 rumah laku terjual. Kami lobby lagi untuk mengundur jatuh tempo dan diijinkan”, tambah Ali pada hadila.
“Itu semua tidak terjadi kalau tidak karena kepercayaan. Jelas, saya meyakini bahwa uang memang bukan modal utama dalam mendirikan usaha, tetapi kepercayaanlah yang utama dan pertama”, kata pria pemilik PT. Portalindo ini.
Lebih lanjut Ali menjelaskan bahwa setalah kepercayaan, modal selanjutnya adalah servise atau layanan. Seorang pengusaha, walaupun memiliki produk yang bagus, tanpa dibarengi layanan yang memuaskan, bisa dipastikan ditinggalkan pembeli.
“Servise harus memuaskan. Dalam dunia property, komplain pelanggan, selalu kami layani dengan sebaik-baiknya. Pagi telpon, siang hari, tukang harus datang membenahi, bila ada yang rusak, bocor atau yang lain. Ini adalah kunci kepuasan pelanggan” tandas Ali pada hadila. “Selanjutnya, kita harus professional. Kualitas dijaga sebaik-baiknya”, tambah Ali.
“Resep selanjutnya adalah jangan lupa bershodaqoh”, kenang Ali. Menurut Ali, shodaqoh, infaq dan zakat bisa membuka pintu rejeki. Maka, jika Anda ingin membangun usaha, jangan tunda-tunda untuk berinfaq, insyaAllah, kemudahan-kemudahan akan sangat terasa.
Sumber : Produkmuslim.com
Read More......
Minggu, 12 April 2009
Hendi Setiono, Presiden Direktur Kebab Turki Baba Rafi
Menjadi Milyarder Di Usia MudaSatu lagi anak muda Surabaya menorehkan prestasi besar. Dia adalah Hendy Setiono, presiden direktur Kebab Turki Baba Rafi. Prestasinya tidak hanya diakui di dalam negeri, tapi juga di mancanegara. Mengapa?
Wajah dan penampilannya masih layaknya anak muda. Siang itu, dia berkemeja batik cokelat dipadu celana hitam. Cukup sederhana. Tak tecermin tampang seorang bos dari perusahaan beromzet lebih dari Rp 1 miliar per bulan.
Itulah penampilan sehari-hari Hendy Setiono, Presdir Kebab Turki Baba Rafi Surabaya. Oleh majalah Tempo edisi akhir 2006, dia dinobatkan sebagai salah seorang di antara sepuluh tokoh pilihan yang dinilai mengubah Indonesia. Tentu, sebuah pengakuan yang membanggakan bagi Hendy. Apalagi, bisnis yang dia geluti tergolong bisnis yang tak akrab di telinga. Usianya pun masih 23 tahun! Wow, masih sangat muda untuk seorang bos yang memiliki 100 outlet di 16 kota di Indonesia.
Dengan ramah, pria kelahiran Surabaya, 30 Maret 1983, tersebut mempersilakan Jawa Pos masuk ke kantornya di Ruko Manyar Garden Regency, kawasan Nginden Semolo. “Biasanya saya masuk kantor agak siang. Tapi, karena hari ini ada janji dengan Anda, saya agak meruput datang ke kantor,” ujar Hendy mengawali perbincangan.
Ketika itu, jarum jam sudah menunjuk pukul 11.00. Bagi Hendy, pukul 11.00 masih terbilang pagi karena biasanya dirinya baru masuk kantor lebih dari pukul 12.00.
Dia lalu menceritakan awal mula bisnis kebab yang digelutinya tersebut. Kebab adalah makanan khas Timur Tengah (Timteng) yang dibuat dari daging sapi panggang, diracik dengan sayuran segar, dan dibumbui mayonaise, lalu digulung dengan tortila. Sebenarnya, kebab banyak beredar di Qatar dan negara Timteng lainnya.
Namun, kata Hendy, kebab paling enak adalah dari Istambul, Turki. Karena itu, dia menggunakan “trade mark” Turki untuk menarik calon pelanggan.
Hendy mengisahkan, pada Mei 2003, dirinya mengunjungi ayahnya yang bertugas di perusahaan minyak di Qatar. Selama di negeri yang baru sukses melaksanakan Asian Games itu, dia banyak menemui kedai kebab yang dijubeli warga setempat. Lantaran penasaran, Hendy yang mengaku hobi makan itu lantas mencoba makanan yang lezat bila dimakan dalam kondisi masih panas tersebut. “Ternyata, rasanya sangat enak. Saya tak menduga rasanya seperti itu,” ungkap sulung dua bersaudara pasangan Ir H Bambang Sudiono dan Endah Setijowati tersebut.
Tak hanya perutnya kenyang, saat itu di benak Hendy langsung terbersit pikiran untuk membuka usaha kebab di Indonesia. Alasannya, selain belum banyak usaha semacam itu, di Indonesia terdapat warga keturunan Timteng yang menyebar di berbagai kota.
“Orang Indonesia juga banyak yang naik haji atau umrah. Biasanya, mereka pernah merasakan kebab di Makkah atau Madinah. Nah, mereka bisa bernostalgia makan kebab cukup di outlet saya,” jelasnya.
“Makanya, selama di Qatar, saya juga memanfaatkan waktu untuk berburu resep kebab. Saya mencarinya di kedai kebab yang paling ramai pengunjungnya,” jelas Hendy yang beristri Nilamsari, 23, dan kini sudah dikaruniai dua anak, Rafi Darmawan, 3, dan Reva Audrey Zahifa, 2, tersebut.
Begitu tiba kembali di Surabaya, dia langsung menyusun strategi bisnis. Yang pertama dilakukan adalah mencari partner. Dia tidak ingin usahanya asal-asalan. Dia kemudian bertemu Hasan Baraja, kawan bisnisnya yang kebetulan juga senang kuliner. Awalnya, mereka sengaja melakukan trial and error untuk menjajaki peluang bisnis serta pangsa pasarnya.
“Ternyata, resep kebab dari Qatar yang rasa kapulaga dan cengkehnya cukup kuat tidak begitu disukai konsumen. Ukurannya pun terlalu besar. Makanya, kami memodifikasi rasa dan ukuran yang pas supaya lebih familier dengan orang Indonesia,” katanya.
September 2003, gerobak jualan kebab pertamanya mulai beroperasi. Tepatnya di salah satu pojok Jalan Nginden Semolo, berdekatan dengan area kampus dan tempat tinggalnya.
Mengapa gerobak? Hendy mempunyai alasan. “Membuat gerobak lebih murah daripada membuat kedai permanen. Tidak perlu banyak modal. Gerobak pun fleksibel, bisa dipindah-pindah,” ujarnya.
Soal nama kedainya Baba Rafi, dia mengaku terinspirasi nama anak pertamanya, Rafi Darmawan. “Diberi nama Kebab Pak Hendy kok tidak komersial,” katanya lalu tergelak.
Saat itulah terlintas di benaknya nama si sulung, Rafi. “Kalau dipikir-pikir, pakai nama Baba Rafi, lucu juga rasanya. Baba kan berarti bapak, jadi Baba Rafi berarti bapaknya Rafi.”
Mengawali sebuah bisnis memang tidak mudah. Apalagi untuk meraih sukses seperti sekarang. Suka duka pun dirasakan calon bapak tiga anak itu. “Misalnya, uang berjualan dibawa lari karyawan. Banyak karyawan yang keluar masuk. Baru beberapa minggu bekerja sudah minta keluar,” ungkapnya.
Bahkan, pernah suatu hari, karena tak mempunyai karyawan, Hendy dan istri berjualan. Hari itu kebetulan hujan. Tak banyak orang membeli kebab. Makanya, pemasukan pun sedikit. “Uang hasil berjualan hari itu digunakan membeli makan di warung seafood saja tak cukup. Wah, itu pengalaman pahit yang selalu kami kenang,” ujarnya.
Tak ingin setengah-setengah dalam menjalankan bisnis, lulusan SMA Negeri 5 Surabaya tersebut akhirnya memutuskan berhenti dari bangku kuliah pada tahun kedua. “Saya OD alias out duluan. Tapi, saya tidak menyesal meninggalkan bangku kuliah untuk membangun usaha,” tegas Hendy yang pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Teknik Informatika ITS tersebut.
Keputusan dia untuk meninggalkan bangku kuliah guna menekuni bisnis kebab tersebut sempat ditentang orang tuanya. Mereka ingin Hendy menjadi orang kantoran seperti ayahnya. Karena itu, ketika dia meminta bantuan modal, orang tuanya menganggap bisnis yang akan dilakoni tersebut adalah proyek iseng. “Mereka pikir saya tidak serius pada bisnis itu. Dalam hati, saya ingin membuktikan kepada bapak dan ibu bahwa kelak saya pasti berhasil,” jelasnya.
Yang luar biasa, kesuksesan bisnis Hendy tak perlu waktu lama. Hanya dalam 3-4 tahun, dia berhasil mengembangkan sayap di mana-mana. Bahkan, hingga pengujung 2006, pengusaha muda tersebut mencatat telah memiliki 100 outlet Kebab Turki Baba Rafi yang tersebar di 16 kota di Indonesia. Tidak hanya di Jawa, tapi juga di Bali, Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan.
Ke depan, Hendy berencana mengembangkan usahanya itu ke luar negeri. Dua negara yang diincar adalah Malaysia dan Thailand. “TV BBC London dan majalah Business Week International pernah meliput usaha saya tersebut. Setelah itu, ada orang yang menawari saya membuka outlet di Trinidad & Tobago serta Kamboja,” jelasnya.
Sukses bisnis kebab waralaba Hendy itu juga menghasilkan berbagai award, baik dari dalam maupun luar negeri. Di antaranya, ISMBEA (Indonesian Small Medium Business Entrepreneur Award) 2006 yang diberikan menteri koperasi dan UKM. Hendy juga ditahbiskan sebagai ASIA’s Best Entrepreneur Under 25 oleh majalah Business Week International 2006. Untuk meraih award tersebut, dia bersaing dengan 20 kandidat pengusaha lain dari berbagai negara di Asia.
Pria kalem itu juga mendapatkan penghargaan Citra Pengusaha Berprestasi Indonesia Abad Ke-21 yang dianugerahkan Profesi Indonesia. Kemudian, penghargaan Enterprise 50 dari majalah SWA untuk 50 perusahaan yang berkembang dalam setahun terakhir. Serta, di pengujung 2006, majalah Tempo menobatkan Hendy menjadi salah seorang di antara sepuluh tokoh pilihan yang mengubah Indonesia.
Apa yang akan dilakukan Hendy selain mengembangkan usahanya ke mancanegara? Tampaknya, dia ingin seperti raja komputer, Bill Gates. “Saya belajar dari para pengusaha sukses. Salah satunya, Bill Gates. Dia bisa mendirikan kerajaan Microsoft, meski tidak tamat sekolah. Jadi, intinya, untuk menjadi orang sukses, tidak harus memiliki gelar akademis dan indeks prestasi (IP) tinggi,” tegasnya lalu tertawa.
Sumber : Jawa Pos
Read More......
Langganan:
Postingan (Atom)