Jumat, 29 Oktober 2010

Karena Ingin Jadi Presiden Direktur

"Saya ingin mandiri dan menjadi presiden direktur," kenang Wuryanano saat memutuskan keluar dari pekerjaan sebagai Manager Divisi di perusahaan nasional pada 1989. Kini, ia tak sekadar menjadi presiden direktur tapi sekaligus pemilik dari sederet perusahaan.

Saat mulai memutar roda bisnis di bidang peternakan, usahanya mengalir lancar dan tak ada aral yang berarti. Bisnis ayam petelur dan ayam potong digelutinya selaras dengan keahliannya. Perusahaan peternakan bernama PT Swastika Prima International itu baru mengadapi tantangan besar saat badai krismon menerpa Indonesia. "Saat itu saya terlalu ambisius dalam mengembangkan usaha saya," ungkap Wuryanano yang menjelaskan permintaan pasar belum mampu menyerap produksi ternaknya. Kerugian Rp 5 miliar pun ia ikhlaskan.

Tapi tak ada istilah patah arang bagi Wuryanano. Dengan menggandeng empat rekanan bisnis, ia membesarkan kembali peternakan miliknya. Justru dengan memiliki rekanan bisnis, ia tak harus kerap nongkrongi peternakan. Ia malah lebih leluasa mengembangkan bisnisnya yang lain.

Lahan peternakannya kini makin lapang dengan menempati tanah 50 hektar di kota Blitar. Kandang-kandangnya selalu riuh oleh suara kotek 350.000 ayam petelur dan 400.000 ayam potong. Peternakan itu juga menjadi sumber rezeki bagi 350 karyawannya yang mayoritas mengenyam bangku sekolah dibawah SMU.

Hasil peternakannya yang bejibun itu tak ada yang tersisa. Para agen sudah antri dengan permintaanya masing-masing. "Bahkan agen baru yang ingin membeli produksi ternak saya tolak karena permintaan membludak," jelas Wuryanano.

Bisnis Wuryanano tak sebatas telur dan daging ayam, tapi juga mengepakkan sayap bisnisnya di bidang merchandising, souvenir, supermarket, garmen, butik dan lembaga pendidikan. Serta yang paling bontot adalah bisnis kue camilan yang nantinya akan diproyeksikan menjadi pabrik kue camilan.

Keberhasilannya menjadi seorang entrepreneur kerap membuatnya prihatin akan kualitas lulusan sekolah dan perguruan tinggi di Indonesia. "Keliru besar jika dunia pendidikan terlalu banyak materi sehingga menjadi tidak fokus pada ilmu apa yang dibutuhkan," paparnya. "Akibatnya, saat lulus kuliah, banyak yang nggak ngerti bagaimana cara bekerja".

Berbekal keinginan agar lebih banyak menelorkan entrepreneur dan profesional, ia mendirikan Lembaga Pendidikan Profesi Swastika Prima Community College Surabaya. Lembaga pendidikan yang menerima mahasiswa sejak 2001 silam itu telah mewisuda lebih dari 1.000 orang. Ia tak ingin lembaga pendidikannya mencetak pengangguran seperti yang kerap dilihatnya.

"Saya tidak akan meluluskan mahasiswa yang belum menjadi entrepreneur atau yang sudah bekerja," jelas Wuryanano. Artinya, sebelum lulus, mereka telah mengantongi penghasilan. Baik menggawangi usaha sendiri atau setidaknya menjadi profesional di suatu perusahaan.

Keberhasilannya berbisnis mendapat perhatian pihak lain. Ia diganjar penghargaan ISMBEA (Indonesia Small & Medium Business Entrepreneur Award) 2008 sebagai entrepreneur yang berhasil menggerakkan sektor riil dengan inovatif. "Saya melihat penghargaan ini sebagai peringatan karena setelah sekian tahun berbisnis, saya tetap saja menyandang predikat sebagai pengusaha kecil," ujar Wuryanano sambil tertawa. Tapi ia mengakui, senang rasanya memperoleh penghargan itu.

Pengusaha yang saat senggang gemar mengajak istri dan kedua anaknya wisata alam ini, resep bisnisnya cukup unik. "Berusahalah untuk bisa memiliki pegawai sebanyak-banyaknya. Dan jangan lupa mengayomi kesejahteraan mereka," pesan Wuryanano. Kini total karyawannya lebih dari 500 orang dan terus bertambah. Tentu dengan bertambahnya karyawan, kapasitas bisnis akan lebih leluasa melebarkan sayap.

Read More......

Dari Karyawan Jadi Pengusaha

Bermula dari usaha jasa fotokopi, ketrampilan dan bakat lelaki kelahiran 21 Mei 1975 ini mulai terasah. Didorong oleh kebutuhan keluarganya yang terus meningkat, ia mencari peluang membuka usaha sendiri, dibantu seorang kenalannya di Kantor Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Tangerang, ia membuka usaha jasa fotokopi.

Berbekal tabungan senilai Rp 500 ribu ditambah dengan pinjaman dari beberapa temannya sebesar Rp 15 juta, terbeli mesin fotokopi dan berbagai kebutuhan lain, sementara untuk operasional sehari-hari, Arta Prima, begitu Yulianto menamai usahanya, masih mengandalkan pinjaman temannya.

Seiring perjalanan waktu, usaha Yulianto pun terus berkembang. Terlebih di kompleks Depdiknas, Arta Prima merupakan satu-satunya usaha fotokopi yang menangani hampir sebagian besar penggandaan surat ataupun dokumentasi lain di departemen itu. Hal ini menaikkan omset penjualannya sampai Rp 5-10 juta dalam sebulan. Kepercayaan yang sama dari Telkomsel dan Indosat juga untuk menggandakan materi pelatihan dan berbagai kebutuhan lain yang berhubungan dengan masalah percetakan pun dapat diraihnya.

Untuk mengatasi beban kerja, selain merekrut pegawai, di awal tahun 2003 itu ia mulai mengajukan kredit mikro ke BNI Cabang Palmerah, Jakarta sebesar Rp 50 juta, yang sedianya akan dipakai untuk membeli dua mesin fotokopi dan perlengkapan lain. Hanya dalam tempo tiga hari, modal usaha yang dibutuhkan disetujui, karena dinilai cukup layak (omset Yulianto cukup besar untuk ukuran pengusaha kecil, keberadaan Depdiknas sebagai pelanggan tetap, membuat resiko usahanya lebih kecil) untuk diberikan pinjaman, dengan masa pelunasan selama tiga tahun.

Sementara untuk memperluas pasar ia juga membuka cabang. Pada awal 2006 dengan total dana sebesar Rp 15 juta, ia membuka cabang di daerah Mampang, Jakarta Selatan, sekaligus menambahnya dengan penyewaan komputer. Ekspansi ini berhasil meningkatkan omzet dan kualitas layanannya, baginya pelayanan dan hasil terbaik, adalah kunci utama mempertahankan pelanggan.

Bantuan yang diberikan BNI, mendorong Yulianto untuk mengajukan kredit baru (walaupun omset penjualannya sudah menyentuh angka Rp 30 juta sebulan) guna membeli mesin lagi. Semuanya dilandasi kepercayaan bahwa ekspansi usaha adalah jalan terbaik untuk memperbesar bisnisnya.

Sumber : Tangan Di Atas

Read More......

Senin, 14 September 2009

Subhash Chandra, Konglomerat India yang Tidak Lulus SMA

Subhash Chandra merupakan salah satu konglomerat India. Dia adalah pendiri salah satu perusahaan kemasan terbesar di dunia, Essel Propack Limited. Chandra yang tak lulus dari bangku sekolah menengah atas itu juga terkenal sebagai Raja Media India karena merupakan pendiri sekaligus pemilik jaringan televisi satelit Zee TV. Majalah Forbes edisi Maret 2009 menempatkan Chandra di urutan 647 orang terkaya dunia dengan kekayaan mencapai 1,1 miliar dollar AS.

Di industri pertelevisian India, nama Subhash Chandra terbilang kondang. Maklum, ia adalah pendiri sekaligus pemilik stasiun televisi satelit swasta pertama India, Zee TV. Zee TV kini merupakan saluran televisi berlangganan terbesar dan paling populer di India, mengalahkan Sony Entertainment Television dan Star Plus.

Saluran Zee TV yang juga memiliki beberapa stasiun televisi lokal dalam beberapa bahasa daerah yang sampai saat ini memiliki 32 juta pelanggan di India. Bahkan, channel Zee TV juga merambah ke negara lain, seperti di Amerika Serikat (AS), Timur Tengah, Eropa, Afrika, Australia, dap Selandia Baru.

Chandra membangun kerajaan media miliknya tidak dalam sekejap. Ia mulai merintis bisnis televisi satelit dan mendirikan Zee TV sejak tahun 1992. Keputusannya terjun ke bisnis televisi kabel rupanya tak salah. Lewat Zee TV inilah bisnis media Chandra terus mengembang.

Penciuman bisnis Chandra yang tajam ini sudah terasah sedari muda. Chandra lahir di Hissar, kota kecil di sebelah utara India, pada 30 November 1950. Dia terlahir dari keluarga pedagang beras ternama di India. Sejak muda, dia memang sudah menaruh minat besar pada dunia bisnis. Bahkan, ia harus terdepak alias drop out dari bangku kelas 12 atau setara kelas 3 sekolah menengah atas (SMA) gara-gara lebih memilih mencari duit ketimbang menghabiskan waktu di bangku sekolah.

Chandra yang saat itu baru berusia 19 tahun, akhimya berketetapan sebagai pebisnis tulen di perdagangan beras. Naluri bisnis Chandra besar-benar terasah sewaktu mengurusi bisnis beras milik keluarganya itu. Dia berhasil mengembangkan bisnis beras tersebut sehingga bisa masuk ke dalam salah satu eksportir beras ternama di India.

Toh, ia tidak puas hanya berdagang beras. Chandra mulai mencoba-coba bisnis lain yang berpeluang mendatangkan untung lebih besar. la pun menjajal peruntungan bisnis minyak sayur. Chandra lantas membangun pabrik minyak sayur. Hanya dalam waktu singkat, minyak sayur buatan pabrik Chandra telah menguasai pasar. Dua tahun berdiri, omzet penjualan pabrik minyak sayur itu mencapai 2,5 juta dollar AS per tahun.

Perlahan bisnis Chandra mulai mengembang. Pada 1981, ia menerjuni bisnis kemasan. Chandra memperoleh ide bisnis kemasan itu setelah mendatangi pameran usaha pengemasan. Tanpa pikir panjang Chandra mendirikan Essel Packaging Limited. Chandra merupakan salah satu pionir bisnis pengepakan barang di India.

Essel Packaging makin menggurita setelah melakukan penggabungan usaha alias merger dengan perusahaan pengepakan asal Swiss bernama Propack AG. Pascamerger tersebut, perusahaan Chandra berganti nama menjadi Essel Propack Limited. Saat ini Essel Propack Limited merupakan salah satu perusahaan pengepakan terbesar di dunia.

Lewat Essel, bisnis Chandra mulai beranak pinak. Tahun 1988, Chandra membuat taman bermain dan taman rekreasi (theme park) terbesar di Asia bernama EsselWorld. Dunia fantasi dengan beragam wahana permainan tersebut berdiri di Mumbai dan menempati lahan seluas 64 hektar. Hebatnya lagi, EsselWorld merupakan taman bermain pertama di Asia yang menerapkan prinsip ramah lingkungan dan memenuhi standar internasional.

Agar pengunjung membanjiri taman hiburan itu, pada 1998 Chandra menambahkan wahana wisata air Water Kingdom di EsselWorld. Untuk mendesain Water Kingdom tersebut, Chandra memakai jasa arsitek asal Perancis, Jean Michel Rouls.

Membangun kerajaan televisi pertama di India

Meski tersohor sebagai tempat hiburan keluarga terbesar di Asia, EsselWorld ternyata tak terlalu banyak memberi keuntungan buat Subhash Chandra. Padahal, jumlah pengunjung EsselWorld rata-rata mencapai 10.000 orang per hari. Chandra memang kurang puas dengan kinerja EsselWorld. Namun, baginya EsselWorld menjadi pelajaran penting tentang bagaimana mengelola bisnis hiburan keluarga.

Pria ini kemudian melirik bisnis baru untuk menopang pertumbuhan bisnisnya. Kali ini penciuman Chandra mengendus bisnis televisi satelit. Chandra melihat ceruk bisnis ini masih sangat besar di India, apalagi waktu itu belum ada pengelola televisi satelit di India. Maka pada tahun 1992, Chandra meluncurkan saluran televisi berbahasa Hindi pertama, bernama Zee Television (Zee TV). Pengoperasian Zee TV ini mengejutkan masyarakat India karena waktu itu hanya bisa menikmati tayangan televisi terbatas dari saluran televisi milik pemerintah.

Saluran televisi satelit India pertama itu mulai tayang pada tanggal 2 Oktober 1992. Chandra menyewa transponder satelit AsiaSat milik Star TV, sebelum konglomerat media Rupert Murdoch mengambil alih Star TV.

Setahun kemudian, Chandra mendirikan perusahaan perfilman atau rumah produksi bernama Zee Telefilms Limited. Rumah produksi ini yang mengisi dan menyajikan konten siaran Zee TV. Ini merupakan bisnis terintegrasi Zee TV sehingga mereka tak perlu mengeluarkan ongkos besar untuk membeli program televisi.

Pada tahun 1995, Chandra memulai kerja sama dengan News Corp, raksasa media milik Murdoch. News Corp inilah yang memasok program Zee News untuk siaran berita, dan Zee Cinema yang menayangkan berbagai program film. Awalnya hubungan Chandra dengan Murdoch berlangsung mesra. Berkat kongsi dengan Star TV dan News Corp, jaringan Zee TV cepat membesar dan populer. Hanya dalam tempo kurang dari tujuh tahun, Zee TV menjadi jaringan televisi kabel paling populer di India. Bahkan, Zee TV kemudian menjadi salah satu jaringan televisi kabel top dunia yang memiliki jaringan di 120 negara dengan lebih dari 200 juta penonton.

Kerja sama Chandra dan Murdoch hanya bertahan lima tahun. Itu terjadi setelah perusahaan media Murdoch, News Corporation, mengambil alih Star TV. Pasca-akuisisi tersebut, Murdoch dan Chandra bersepakat mengakhiri kerja sama bisnis. Banyak analis yang menilai putusnya hubungan kerja sama itu menguntungkan kedua belah pihak. Satu sisi, Murdoch terlepas dari kontrak yang melarang Star TV membuat program yang serupa dengan program yang dimiliki Zee TV. Di sisi lain, Chandra semakin berpeluang untuk membesarkan Zee TV dengan tangan sendiri. Gara-gara pemutusan kerja sama itu Zee TV harus membayar kompensasi kepada Star TV senilai 150 juta dollar AS.

Namun, ada spekulasi lain yang muncul di balik pecahnya kongsi Zee TV dengan Star TV. Konon, hubungan kerja sama itu berakhir lantaran Murdoch terlalu mendikte Chandra bagaimana harus menjalankan bisnisnya.

Toh, Zee TV tidak limbung meski berpisah dengan Star TV. Malah, Chandra semakin tertantang untuk mengembangkan Zee TV. Chandra pun terus membuat gebrakan. Pada tahun 2000, Zee TV menjadi perusahaan televisi kabel pertama di India yang meluncurkan layanan internet melalui jaringan TV kabel.

Tak cuma itu, pada tahun 2003, Zee TV menjadi service provider pertama di India yang menyediakan layanan direct to home (DTH). Dalam waktu singkat Zee TV telah menjadi media besar dan kemudian malah menjadi kompetitor kuat Star TV. (Abdul Wahid Fauzie/Kontan)
Read More......

Putu, dari Laptop Pinjaman Sekarang Omzet Miliaran

Berawal dari sebuah ruangan dan laptop pinjaman seorang teman, Putu Sudiarta membangun penyebaran teknologi dengan cara unik ke seluruh Indonesia hingga mancanegara. Bahkan, PT Bamboomedia Cipta Persada di Jalan Merdeka, Denpasar, Bali, sebagai aktualisasi karyanya itu pun tak pernah sepi dari kunjungan mahasiswa sampai rekan bisnis kecil dan besar. Lalu, keunikan apa yang membuatnya beromzet miliaran rupiah sejak berdiri tahun 2002 lalu?

Putu Sudiarta yang berperawakan tinggi, kurus, dan berpenampilan sederhana ini pun langsung menunjuk ke sebuah lemari kaca di salah satu sudut ruangan rapat di kantornya. ”Ini adalah lemari sejarah perjalanan Bamboomedia,” katanya sambil tersenyum.

Di dalam lemari itu tersimpan beberapa disket, telepon rumah, brosur-brosur, CD, kabel internet, beberapa buku, serta sebuah hair dryer. Barang-barang tersebut yang mengawalnya menjadi dikenal di dunia teknologi informasi. Ia sendiri pun tak menyangka bisa sebesar sekarang dan banyak pebisnis dan puluhan mahasiswa teknik informatika dengan beberapa bus dari luar Bali mengunjunginya karena penasaran dengan siapa di balik Bamboomedia.

Bamboomedia Cipta Persada dikenal sebagai penghasil perangkat lunak (software) aplikasi komputer untuk perkantoran, pelajar, karyawan, perusahaan besar ataupun kecil, sampai ke anak-anak. Intinya, perusahaan ini hanya mementingkan pendidikan dan bagaimana aplikasi ini bisa menyebar secara benar, baik, mudah, dan murah tanpa batas.

Bayangkan, Putu Sudiarta hanya menjual CD aplikasinya itu mulai harga Rp 25.000 per keping dan kurang dari Rp 50.000 per keping. Tidak berhenti di situ, aplikasinya juga boleh diakses oleh siapa pun dari CD, hanya dengan mendaftar atau membayar sejumlah uang sesuai harga CD tanpa harus datang ke kantornya.

”Kami ingin siapa pun bisa mudah untuk belajar meski jaraknya jauh dari sini. Buktinya, kami memiliki pelanggan di daerah Papua yang hanya dengan mengirimkan pesan singkat untuk mendapatkan nomor registrasi dan transfer uang. Satu CD bisa dipakai berulang kali,” jelasnya.

Sebelum memutuskan pulang ke pulau kelahirannya, Bali, Putu Sudiarta menyelesaikan S-1 di Jurusan Informatika Stikom Surabaya, Jawa Timur, dan pernah bekerja di kota itu. Ia yang lahir dan besar dari keluarga cukup mampu ini mulai merasa iba ketika suatu saat menemui lingkungannya yang serba kekurangan, termasuk sulitnya siswa mengakses teknologi.

Dari pengalaman itu, Putu Sudiarta bertekad mencari cara bagaimana ilmu yang selama ini dia geluti juga bisa dinikmati oleh mereka yang minim bangku pendidikan.

Menurut dia, dunia akan terus berkembang. Namun, apa artinya jika ada bagian dari negara ini masih serba kekurangan hanya karena tak memiliki kemampuan menjangkau dan dijangkau dari perkotaan.

Ia pun bertekad pulang ke Bali. Selanjutnya bersama seorang adik dan seorang temannya, Putu Sudiarta menggalang kekuatan menembus pasar dengan menjual beberapa aplikasi yang sudah disusun secara mudah untuk dicerna dan diikuti tanpa merasa digurui.

Bermodalkan persis sama seperti di ”lemari sejarah”-nya, Putu Sudiarta yang gemar masakan Padang ini terus menggali potensi. Sejak tahun 2002 hingga sekarang, ia sudah menyabet beberapa penghargaan edukasi untuk produk-produknya.

Koleksi produknya pun sudah sekitar 108 produk. Omzetnya pun bisa jutaan rupiah dan pernah mencatat sampai Rp 1,6 miliar. Tapi menurut dia, lagi-lagi ini merupakan bagian dari perjalanan. Baginya, kegigihan menjadi salah satu motivasinya agar air itu pun terus mengalir.

Saat awal membangun Bamboomedia dia hanya berbekal laptop pinjaman untuk menembus pasar melalui Gramedia pada tahun 2003. ”Wah, kala itu bergaya sekali memamerkan aplikasi produk kami kepada pihak Gramedia di salah satu tokonya di Denpasar ini. Padahal, laptopnya pinjaman. Siapa yang tahu, kan?” ujarnya sambil sedikit berkelakar.

Menembus Microsoft

Mimpinya menembus pasar melalui Gramedia pun terkabul. Lalu bagaimana dia bisa pula menggaet Microsoft, perusahaan teknologi informasi besar itu?

Menurut Putu Sudiarta, itu lagi-lagi merupakan sebuah keberuntungan yang tak terkira. Dengan ilmu coba-coba, ia menelepon kantor Microsoft. Singkatnya, setelah diminta menghubungi ini dan itu, dia berangkat ke Jakarta dan lagi-lagi harus memperagakan produknya.

Ia berhasil. Microsoft bersedia menggaetnya sebagai salah satu vendor bisnis. Uniknya, banyak perusahaan bisnis besar yang telah ditembusnya selalu tak percaya dengan keberadaan kantor Bamboomedia yang hanya sebuah rumah sebelum menempati kantor besarnya di kawasan mewah Renon, Denpasar, sekarang ini.

Distribusinya pun terus berkembang hingga ke seluruh pelosok Tanah Air. Termasuk sedikitnya 30.000 perusahaan kecil dan menengah yang sudah menggunakan produknya. Ini juga berawal dari kepedulian dan keprihatinannya terhadap pembajakan.

Bayangkan, jelasnya, para perusahaan kecil dan menengah ini bisa menjadi sasaran empuk dari mereka yang tidak punya hati dengan pembajakan atau permainan harga.

”Kasihan kan, perusahaan kecil dan menengah ini tak bisa maju hanya karena alasan membeli aplikasi untuk usahanya saja mahal sekali. Bisa sampai jutaan rupiah. Kami tidak menginginkan itu. Kami melayani dan memberikan aplikasi yang mudah dan murah agar bisa maju bersama. Bisa menghemat karena cuma dengan puluhan atau kurang dari satu juta rupiah, usaha tetap berjalan dengan aplikasi modern,” katanya. (AYU SULISTYOWATI)


Sumber : Kompas
Read More......

Jumat, 19 Juni 2009

Hutang Berlipat, Kekayaan Meningkat

Miming Pangarah memang pandai mengelola hutang sehingga omset perusahaannya mencapai puluhan miliar hanya dalam waktu dua tahun. Bagaimana?

Perasaan apa yang dialami oleh seseorang ketika berhutang pada bank? Malukah atau merasa khawatir tidak mampu membayar angsuran?. “Kedua perasaan itu pernah saya alami dua setengah tahun yang lalu,” kenang Miming Pangarah, pemilik perusahaan percetakan asal Bandung, Indoprint. “Bila sekarang, berapa pun besarnya jumlah hutang yang di tawarkan pasti saya akan ambil,” tukasnya. Pada tahun 2002 Miming hanyalah pengusaha biasa dan belum dikenal sukses seperti sekarang.

Baru setelah dia mendapatkan berkah dari ‘bermain hutang bank’ namanya berkibar khususnya di kalangan komunitas Entreprenur University (EU). “Saya belajar bagaimana caranya agar uang dapat bekerja untuk kita,” ungkapnya. “Sebelum ini, saya hanya mempunyai hutang sekian puluh juta, dan pada waktu itu saya hanya berfikir bagaimana caranya agar hutang saya lunas. Saya berbuat bagaimana menutupi hutang, ternyata itu adalah cara yang salah!” katanya.

Belajar dari pentolan EU, yakni Purdi E Chandra, ia baru paham di dalam menjalankan bisnis yang lebih tepat adalah bukan berusaha bagaimana agar hutang-hutang menjadi lunas, tetapi sebaliknya adalah bagaimana agar bisa mendapatkan hutang lebih besar dari utang tersebut. Maka ketika dia hanya memiliki hutang kecil, ia mengaku mesti bekerja menjaga toko mati-matian agar bisa menutup tanggungan angsuran bulanan. “Kebalikan dengan sekarang, besarnya bunga yang harus saya bayar per bulan kepada bank kira-kira Rp 60 juta, tetapi bukan saya yang membayar, karena keuntungan bisnis yang berjalan itulah yang menutup sendiri,” paparnya. Logikanya sederhana. Hitungan kasar bunga bank adalah sekitar 1,5% besarnya tiap bulan. Sedangkan profit yang didapatkan dari bisnis paling tidak adalah 5% dan bisa lebih. Dari situ besar bunga yang mesti ditanggung sudah tertutup masih ditambah sisa keuntungannya. Meski selisih hanya 3,5% itu sudah cukup besar bila dikalikan dengan jumlah hutang sebesar Rp 500 juta, misalnya.

Mengenai resiko kredit macet karena bisnis yang tidak bisa jalan atau merugi Miming menepis bahwa kemungkinan itu kecil terjadi asalkan pengusaha disiplin dalam mengelola manajemen keuangan. Prinsip yang harus dipegang bahwa menggunakan kuncuran kredit untuk keperluan konsumtif adalah tabu dilakukan. Ia mewanti-wanti bila orang sudah mulai berani menggunakan sekian ribu uang dari bank untuk di luar kepentingan bisnis, maka hal sembrono itu akan terus terulang dalam jumlah yang makin membesar. “Saya pastikan bahwa dia akan bangkrut,” ancamnya. Miming membenarkan bahwa masalah yang kerap dihadapi oleh pelaku usaha tingkat UKM ketika berhubungan dengan bank adalah tidak bisa meyakinkan pihak pemberi utang. Maka sejak awal hendak mengajukan keredit ia telah menerapkan pembukuan yang mengikuti standar berikut neraca dan rekening koran. “Laporan keuangan kita buat bagus sehingga bank percaya sama kita,” ujarnya. Soal agunan? Bukan masalah, karena aset yang di miliki itulah yang diagunkan, “Sehingga resiko tidak ada, karena paling-paling ruko saya yang diambil,” ucapnya enteng.

Saat ini ia mengaku sudah mempunyai lima buah ruko dan sedang membangun pabrik percetakan sendiri, di samping membuka usaha yang lain yaitu beberapa buah salon yang di waralabakan, BPR, usaha sablon, dan juga telah membeli franchise Primagama. Sehingga total asset yang di miliki adalah sekitar Rp 7 miliar yang dicapai hanya dalam tempo 2,5 tahun. Sedangkan total kredit mencapai sekitar Rp 3,5 miliar besarnya. “Ketika dulu saya takut sama bank, omset bisnis saya kira-kira cuma Rp 150 juta setahun, sekarang ketika saya berani menggunakan hutang bank omset saya sudah di atas 10 miliar setahun,” tuturnya mantap. Kredit dalam jumlah besar tentu saja tidak bisa diharapkan dengan serta-merta. “Saya juga mulai dari jumlah kecil,” ujarnya. Pertamakali mengajukan kredit senilai Rp 30 juta, kemudian meningkat seiring dengan pertambahan aset yang di hasilkan dari kucuran dana sebelumnya. “Maka perlu sekali untuk menjaga hubungan baik dengan tidak membuat kesalahan dengan bank,” imbuhnya. Meski jaringan usahanya sudah mulai menggurita bukan berarti pembicara aktif EU tersebut mesti sibuk mengurusi bisnis tiap hari. Sebaiknya dia leluasa menjalani aktifitasnya berkeliling sebagai pembicara ke berbagai kota di seluruh Indonesia baik di Jakarta, Cilegon, Bogor, Semarang, Yogyakarta, Palembang, Padang, Denpasar dan lain-lain. “Saya adalah orang yang paling dicari setelah Pak Purdi,” katanya. Sedangkan urusan bisnis ia telah mempercayaksan pada SDM yang menangani secara profesional. “Saya menerapkan manajemen profesional termasuk untuk menggaji diri saya,” tuturnya. Ia ingin meyakinkan bahwa kalau dengan apa yang dilakukannya dia bisa melakukan loncatan seperti sekarang, tentu orang lain akan bisa pula.

Saya hanya ingin merubah pikiran banyak orang bahwa bisnis itu tidak mesti memakai uang, yang penting butuh keberanian,” tegasnya. Ditambahkan, “Ketika seseorang sudah memiliki niat untuk berbisnis, pikirkan bisnis jenis usahanya dan jalannya. Artinya tidak bisa hanya dengan berangan-angan tetapi sambil diam saja.”

Sumber: www.garagarapurdi.com

Read More......

Senin, 25 Mei 2009

MARIUS "C59" WIDYARTO SUKSES BERBISNIS DENGAN DESAIN KREATIF

Tentu sebagian besar dari Anda pernah mendengar nama kaus bermerk C59. Kesuksesan C59 tidak lepas dari kepiawaian penggagasnya, Marius Widyarto atau yang akrab dipanggil Mas Wiwied. Bermula dari rasa gusarnya melihat teman-temannya yang memamerkan kaos bergambar kota mancanegara buah tangan dari orang tuanya usai bepergian dari luar negeri, Wiwied kemudian tertantang untuk membuat sendiri kaus bergambar patung Liberty dan kota New York dan sesumbar bahwa omnya juga baru datang dari luar negeri,sejak saat itulah ia semakin dikenal sebagai orang yang piawai membuat kaus, sampai-sampai, ketika ia bekerja di sebuah perusahaan kontraktor, ia lebih sering didatangi orang untuk urusan pesanan kaus daripada untuk pekerjaannya.

Wiwied yang sejak kecil menyukai pekerjaan prakarya memulai usahanya dari rumahnya yang berukuran 60 m2 di Gang Caladi 59, yang akhirnya menjadi nama merk kausnya dengan modal awal dari hasil penjualan kado pernikahannya dengan Maria Goreti Murniati. Mental entrepreneur Wiwied banyak ditempa ketika ia ikut seorang pengusaha keturunan di Bandung yang memperlakukannya secara keras.Pada awalnya Wiwied menjalankan usahanya dari order kanan kiri, ia juga ikut mendesain,memilih bahan, memotong,menjahit, menyablon sampai finishing disamping juga mencari order.


Usahanya meningkat ketika mendapatkan order dari Nichimen-perusahaan Jepang yang bergerak di bidang pestisida, kaus itu untuk dibagi-bagikan ke para petani.
Usahanya semakin terasa meningkat setelah mengikuti kegiatan Air Show 1986 di Jakarta yang diikuti pula oleh para peserta dari mancanegara.

Wiwied kemudian juga merambah bidang retail yang bermula dari menjual sisa order yang tidak memenuhi syarat yang ternyata juga diminati orang. Setelah usahanya meningkat, pada tahun 1992, ia kemudian pindah ke Jalan Tikukur no.10 yang kemudian memborong rumah di sekitarnya yakni no.4,7,8,9 yang kemudian ia jadikan kantor dan showroom produknya. Selain itu ia juga membuka showroom di daerah lain,seperti Balikpapan, Bali,Yogya dan kota lain sehingga kini ia memiliki sekitar 600 outlet di Indonesia dengan mempekerjakan sekitar 4000 karyawan.


Di mancanegara,Wiwied memiliki 60 showroom yang tersebar di Slowakia,Polandia, dan Czech dan bahkan kini ia juga sudah merambah jaringan Metro Dept.Store di Singapura. Keberhasilannya menembus mancanegara bermula dari beberapa stafnya yang bersekolah di luarnegeri yang biasanya membawa satu dua koper kaus C59 dan dijual pelan-pelan di sana, kemudian diadakan survey yang tenyata pasar di sana menguntungkan karena memiliki empat musim, sehingga tidak hanya bisa menjual t-shirt namun juga sweater atau jaket.


Wiwied juga memiliki sebuah pabrik di atas tanah seluas 4000m2 di daerah Cigadung, Bandung. Pabrik ini dibangun setelah mendapatkan kredit dari Robbie Djohan yang saat itu menjabat Dirut Bank Niaga pada tahun1993, ketika itu Bank Niaga memesan t-shirt ke C59. Di tahun yang sama pula ia mengubah bentuk usahanya menjadi PT. Caladi Lima Sembilan.
Keberhasilan Wiwied dibuktikan dengan berbagai penghargaan yang telah ia terima, diantaranya Upakarti 1996, ASEAN Development Executive Award 2000-2001,Dan pemenang I Enterprise 50.


Filosofi bisnis Wiwied sendiri terinspirasi dari burung Caladi yang berasal dari bahasa Sunda yang berarti burung pelatuk. Wiwied mengartikan Caladi sebagai 5 citra dan 9 cita-cita, lima citra itu menggambarkan karakter sumberdaya manusia yang dimiliki C59 yakni, cakap, cerdik, cermat, cepat, dan ceria.Sedangkan 9 cita-citanya adalah customersatisfaction, company profit, confident working atmosphere, control, collaboration, clear mind, creativity, dan consultative. Wiwied juga ingin seperti burung pelatuk Woody Woodpecker yang tidak mau kalah dari pesaingnya, dan bila kita perhatikan burung pelatuk selalu fokus ketika mematuk pohon, Wiwied pun ingin selalu fokus di bidang garmen.


Salah satu kunci sukses Wiwied juga terletak pada penggalian ide desain yang tidak pernah berakhir, baginya riset desain sangatlah penting karena kekuatan produknya ada pada rancangan,apalagi industri t-shirt cepat berganti tren. Karyawannya pun mendapat kesempatan jalan-jalan untuk mencari ide-ide segar, bahkan ia membiarkan karyawannya untuk tidak masuk asalkan ketika ia masuk ia sudah membawa ide bagus.
Setiap desain yang akan dikeluarkan harus dipresentasikan lebih dulu, kemudian setelah terpilih, baru dilanjutkan dengan prosesi produksi, pemilihan bahan,teknik cetak,warna, dan sebagainya.


Wiwied juga terlihat sangat piawai membangun networking, ia selalu berusaha membangun hubungan baik dengan supplier, support, customer, dan government. Ia sangat percaya bahwa relationship adalah kunci kesuksesan dari bisnis. Wiwied mengaku kalau dia merupakan biangnya koperasi,untuk itu ia juga mendirikan koperasi untuk meningkatkan kesejahteraan karyawannya, omset koperasinya saat ini sekitar Rp 600 juta. Ia bangga karena telah dapat mewujudkan impiannya untuk membuka lapangan kerja bagi banyak orang.
Sumber : yukbisnis.com
Read More......

Junaidi, Sukses Dengan Beternak Jangkrik

Tak harus punya usaha besar untuk membuka lapangan kerja. Beternak jangkrik pun bisa memberikan peluang. Bahkan bisa membantu menjaga kebersihan dengan mengumpulkan limbah-limbah sayur untuk pakan jangkrik dari pasar. Itu sudah dibuktikan Junaidi (43), pria yang mulai berhasil beternak jangkrik di Tiban. Bagaimana ia menjalani usahanya?

Tempat beternak jangkrik milik Junaidi berada di dua tempat. Pertama di jalan Komplek Bapindo, jalan Sanur Blok B No B2, Tiban I. Persis berbelakang dengan rumahnya yang berada di Blok D No C3. Di rumah tipe 37 dan bercat merah mudah itu, Junaidi mulai mengembangkan usaha ternak jangkrik.

Kemarin siang, Batam Pos mendatangi rumah ternak jangkrik itu. Ditemani Junaidi, wartawan koran ini melihat seluruh tempat beternak jangkrik yang dimulai sejak awal Desember 2008. Rumah yang disewa Rp6 juta setahun itu, benar-benar dimamfaatkan keseluruhannya untuk tempat memelihara jangkrik.

Begitu memasuki rumah sudah ada ada kotak-kotak dua tingkat berjejer. Suara jangkrik menyambut dan memecahah kesunyian di rumah itu. Di ruang depan ada dua puluh kotak berukuran 120 sentimeter kali 90 sentimeter. Di dalam kotak yang terbuat dari triplek itulah jangkrik-jangkrik dikembangbiakkan. Ratusan jangkrik memenuhi tiap satu kotak.

Masuk lebih dalam lagi, katak-kotak serupa ditemui. Di kamar yang dulunya kamar tidur, di dapur hingga ke lantai dua rumah itu. ”Di sini ada 50 boks. Satu boks itu berisi satu ons (jangkrik). satu ons sekitar 200-an (jangkrik),” ujar Junaidi saat ditemui di rumahnya, kemarin.

Selain di Tiban I, tempat beternak jangkrik milik Junaidi berada di kawasan Industri Sekupang. Di tempat ini lebih besar lagi karena bangunannya bekas tempat perusahaan. Di sini, jumlah kotak pemeliharaan jangkrik ada 260 kotak.

Kotak pemeliharaan jangkrik itu memamfaatkan bahan-bahan bekas. Mulai triplek, tempat perlindungan jangkrik dari tatakan telur, hingga pelindung kotak yang menggunakan bekas kertas foto ronseng. Tidak hanya tempatnya, pakan jangkrik juga memamfaatkan limbah sayur dan makan yang diperoleh dari pasar. Seperti sawi, mi kering, kepala ikan, dan roti.

Untuk mendapatkan itu, setiap malam pria asal Bengkalis ke Pasar Pagi Jodoh mencari limbah sayur. Bersama karyawannya sekitar pukul 23.00 WIB, ia ke pasar berburu limbah sayur, mi, roti, dan kepala ikan. Satu malam ia bisa mengumpulkan 80 kilogram sayur sawi.

”Itu untuk sekali makan. terus ditambah sayur kangkung yang didapat dari rawa-rawa, jadi satu hari sekitar 120 kilogram sayur untuk makanan jangkrik,” beber Manajer Operasional Prima Tour and Travel ini.

Beternak dan memelihara jangkrik, bagi Junidi, seperti merawat bayi. Tidak boleh kena hujan dan harus telaten. Jangkrik-jangkirk itu diberi makan dua kali sehari, pagi dan sore hari. Makanya, Junaidi membagi tugas karyawannya. Ada yang bertugas mencari pakan dan ada yang bertugas merawat setiap hari.

Beternak jangkrik dimulai Junaidi secara tidak sengaja. Ia pernah melihat jangkrik yang didatangkan ke Batam melalui bandara Hang Nadim Batam. Ia pun bertanya-tanya dan mengetahui jangkrik tersebut didatangkan dari Jawa untuk makanan burung piaraan. Karena belum ada di Batam, jangkrik itu masih didatangkan dari Jawa. Mulai dari situlah Junaidi melihat peluang.

”Kemudian saya baca-baca Alquran. Saya pernah jatuh bangun dalam usaha. Ternyata gak boleh pake nafsu, harus pake hati,” katanya.

Ia pun mulai coba-coba awal Desember lalu. Dengan karyawan dua orang, di rumah yang tepat berbelakangan dengan rumahnya ia mulai beternak jangkrik. Awalnya ia membeli satu ons atau sekitar 200 jangkrik dari Jawa untuk eksprimen. Kemudian ia membeli jangkrik sepuluh kilo untuk dikembangkan dalam 50 kotak. ”Modal awalnya itu satu boks Rp80 ribu,”ungkapnya. Dengan 50 kotak yang masing-masing berisi satu ons jangkrik atau 200-an, ia bisa menghasilkan berkilo-kilo jangkrik yang siap dijual. Satu ons telur jangkrik bisa berkembang menjadi 6-7 kilo jangkrik.

Setelah eksprimennya mulai menunjukkan hasil, Junaidi memperbesar usahanya. Ia pun menambah karyawan menjadi 53 orang. Ia menambah tempat usaha di kawasan Industri Sekupang. Di tempat itu, Junaidi membuat 260 kotak. Sekali panen secara keseluruhan tempat peternakan jangkrik bisa menghasilkan 350 kilo jangkrik.

Jangkrik itu di jual ke toko-toko pakan di Batam, Tanjungpinang, dan Tanjungbalai Karimun. satu kilo ia jual Rp90 ribu. ”Masih untuk pasar lokal. Kedepannya bisa ke Singapura. Tapi untuk sini saja, kebutuhan itu belum terpenuhi,” katanya. ***(Sumber : Batam Pos)
Read More......

  ©Template by Dicas Blogger.

TOPO